Sabtu 01 Mar 2014 19:26 WIB

IBF Dorong Kembali ke Alquran

 Seorang anak tengah membaca buku disalah satu stan penerbit di pameran Islamic Book Fair (IBF) 2013 di Senayan, Jakarta, Ahad (10/3). (Republika/Agung Supriyanto)
Seorang anak tengah membaca buku disalah satu stan penerbit di pameran Islamic Book Fair (IBF) 2013 di Senayan, Jakarta, Ahad (10/3). (Republika/Agung Supriyanto)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Hannan Putra

Umat sudah mengabaikan Alquran.

Indonesia akan menghadapi tahun kepemimpinan pada 2014. Pergantian kepemimpinan nasional juga dibarengi hiruk pikuk pemilihan wakil rakyat di parlemen. Suhu politik kian memanas menjelang pemungutan suara.

Di sisi lain, bangsa Indonesia diuji ketika memasuki awal tahun. Berbagai bencana melanda negeri. Sehingga, bangsa ini butuh penguat dan pegangan erat untuk melewati tahun yang penuh peristiwa akbar ini.

Berpijak dari situlah, Islamic Book Fair (IBF) 2014 yang dibuka Jumat, mengangkat tema Saatnya Umat Berkarakter Qur'ani.

Tujuannya, IBF ke-13 ini diharapkan menjadi awal gerakan bersama untuk mewarnai tahun politik dengan karakter Alquran.

“Kita harapkan para pemimpin bangsa ini yang mereka tonjolkan adalah karakter Qur'ani,” ujar Ketua Panitia Penyelenggara IBF Abdullah Fanani kepada Republika, Ahad (23/2).

''Jadi, mereka yang menyemarakkan tahun politik ini dengan kampanye-kampanye politik hendaknya tidak melupakan ajaran-ajaran Alquran sebagai pegangan hidup,'' paparnya.

Di samping itu, Wakil Panitia IBF M Anis Baswedan mengatakan, Alquran diharapkan menjadi pemandu perbaikan bangsa yang tengah hiruk pikuk mencari pemimpin.

Demikian juga mereka yang mengusung diri menjadi pemimpin politik, hendaklah membekali diri dengan karakter Qur'ani.

“Dengan IBF ini, kita mengajak masyarakat, sudah saatnya berkepribadian yang Qur'ani. Dari sekian cobaan dan musibah yang datang, itu semua peringatan agar kita kembali kepada Alquran,” tutur Anis.

Menurut Anis, jika pemimpin bangsa mengabaikan tuntunan yang diberikan Alquran, Indonesia tidak akan bisa keluar dari jeratan krisis yang selama ini membelenggu.

“Coba kita lihat, di negara kita ini serbaada. Tapi, kok rakyat kita sengsara? Apa yang salah?” ungkap Anis mengingatkan.

Menurut Anis, Indonesia sebagai Muslim terbesar di dunia sudah mengabaikan Alquran sebagai pegangan hidupnya. Umat Islam sudah enggan mengaplikasikan ajaran-ajaran Islam sebagaimana yang dituntunkan Alquran.

Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) DKI Jakarta Afrizal Sinarno menambahkan, memang terlalu berlebihan jika membebankan tanggung jawab pembentukan karakter masyarakat dengan Alquran kepada IBF yang hanya berlangsung 10 hari itu.

Menurutnya, IBF hanyalah sebagai pengingat bahwa Alquran tidak bisa ditinggalkan dalam setiap aktivitas umat.

Melalui buku-buku yang mereka sajikan di IBF, setidaknya umat Islam bisa kembali diingatkan bagaimana menjadi pribadi yang Qur'ani.

Wakil Menteri Agama (Wamenag) Nasaruddin Umar mengungkapkan, tema yang diusung IBF sangat relevan dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini.

Menurutnya, untuk menjadi Indonesia yang seutuhnya, seperti tertera dalam UUD 1945, diperlukan beberapa tahapan yang harus dilalui. Jadi, diharapkan, Alquran dapat menjadi penuntun langkah bagi bangsa yang sedang melalui tahapan-tahapan itu.

Brand Ambassador IBF 2014 Peggy Melati Sukma mengatakan, sudah saatnya umat Islam menggali kembali ajaran-ajaran Islam yang tertera di kitab sucinya sendiri.

Generasi muda Islam juga harus banyak belajar tentang karakter Qur'ani, tentunya dengan banyak membaca dan mencintai buku.

“Dengan membaca, saya bisa berpikir sekaligus bertafakur. Untuk itu, saya tidak ingin berhenti membaca,” ujar Peggy pada saat Media Gathering IBF 2014, Sabtu (22/2).

Lulusan FISIP Universitas Indonesia (UI) yang menyabet predikat cum laude itu dirasa sangat cocok sebagai duta IBF. Ia dinilai sebagai sosok representatif dari seorang insan perbukuan yang bisa memberikan inspirasi bagi banyak orang.

Sebelumnya, Peggy juga pernah dinobatkan sebagai duta Kementerian Pendidikan Nasional, duta Kementerian Riset dan Teknologi, dan duta Kementerian Pemberdayaan Wanita dan Perlindungan Anak.

Selebritas yang kini berhijab itu juga tengah aktif menulis buku. Saat ini, sudah tiga judul buku yang terbit, yaitu My Life My Hijab (penerbit Gramedia), kumpulan syair Peggy berjudul 3,5 Luapan Cinta di Air Tenang (penerbit Motion Publishing), dan Kujemput Engkau di Ujung Malam, sebuah kisah pergulatan batin (penerbit Mizan).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement