Senin 17 Nov 2014 06:09 WIB

Menata Hati

Ustaz Yusuf Mansur.
Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang
Ustaz Yusuf Mansur.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ustaz Yusuf Mansur

Kita suka geram ketika melihat, mendengar dan membaca berita, tentang daging oplosan. Daging sapi dioplos dengan daging babi. Daging sapi dioplos dengan daging tikus. Atau daging segar dioplos dengan daging bangkai lama.

Tapi, tanpa disadari, bisa jadi tiap hari ada di antara kita, bahkan juga diri kita sendiri, jika tidak awas, tidak waspada, tidak banyak ingat, yang malah makan daging manusia.

Ya. Jika kita senang mencari kesalahan orang lain, mengungkap aib orang lain, menjelekkan orang lain, memfitnah orang lain, maka itu sama saja dengan memakan daging saudaranya sendiri.

Allah berfirman di dalam Surah al Hujuraat, ayat 12, ... fakarihtumuuh, Kalian pasti tidak akan menyukainya." Secara lengkap, terjemahan surah al hujarat ayat 12 adalah sebagai berikut;

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), Karena sesungguhnya prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah suka menggunjing satu sama lain. Adakah seseorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya sendiri yang sudah mati? Tentulah kamu akan merasa jijik kepadanya dan bertakwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang."

Tapi sebab karena nafsu kita, karena kekurangawasan kita, karena kekurang hati-hatian kita, kita jatuh pada ghibah dan fitnah. Akhirnya, ya walau tidak suka, tapi dianggap tetap seperti makan daging saudaranya sendiri.

Dari penjelasan ayat di atas, ada tiga hal yang bisa diambil kesimpulan. Pertama, larangan bagi sesama Muslim untuk berprasangka buruk.

Kedua, Larangan bagi seorang Muslim mencari-cari kesalahan pihak lain. Dan ketiga, larangan bagi setiap Muslim untuk menggunjing satu sama lain.

Rasulullah SAW pernah mencontohkan tentang bicara perihal keburukan si Fulan dan si Fulan, dan tidak jarang disebut nama atau identitasnya, ciri-cirinya.

Tapi dimaksudkan oleh Rasulullah SAW, sebagai peringatan beliau dan nasihat beliau. Agar ummatnya berhati-hati, dan mencontoh serta mengambil hikmah dari perilaku dan kelakuan orang yang diceritakan Nabi SAW.

Begitu pun Allah. Allah SWT menyebut nama, sebut saja, Fir'aun. Bahkan Abu Lahab. Hingga Abu Lahab namanya diabadikan menjadi nama surah: Al Lahab. Dan istrinya pun, ikut disebut. Bagaimana ini? Apa hikmahnya?

Insya Allah, tidak semua pencarian kebenaran disebut sebuah keburukan. Pemberitaan disebut keburukan. Pengungkapan disebut keburukan.

Tapi manakala ada kejelekan hati kita yang ikut, ada kesengajaan untuk menjatuhkan, menjelekkan, apalagi jika itu adalah fitnah dan kebohongan, maka saat itulah kita disebut seperti memakan daging saudaranya sendiri.

Tampaknya, kembali kepada niat. Dan sebagai manusia biasa, sebaiknya, lebih banyak hati-hati. Jangan-jangan, saat mengungkap, nafsu turut serta. Akhirnya, kita pun jatuh kepada kebinasaan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement