Sabtu, 11 Ramadhan 1439 / 26 Mei 2018

Sabtu, 11 Ramadhan 1439 / 26 Mei 2018

Tokoh NU Sebut Teroris Musuh Bersama

Rabu 16 Mei 2018 14:46 WIB

Rep: Ali Mansur/ Red: Andi Nur Aminah

Teror Bom (ilustrasi)

Teror Bom (ilustrasi)

Foto: republika/bayu hermawan
Salah satu sumber teror karena banyak berita-berita hoaks.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua PWNU Sumatra Selatan, KH Amri Siregar menyatakan bahwa serangkaian kasus sepekan ini tak bisa dilepaskan dari kasus kericuhan di Mako Brimob. Sebab saat itu bertebaran berita di media sosial soal perlakuan keji polisi kepada narapidana teroris (Napiter). Mulai dari soal melempar Alquran hingga pelecehan kepada istri napiter.

"Berita-berita yang tidak dipertanggung jawabkan itu alias hoaks tersebar massif di grup-grup WA dan lainnya," ujar tokoh NU itu dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Rabu (16/5).

Setelah itu, kata Amri, terjadi penyerangan terhadap anggota polisi hingga tewas di Mako Brimob. Kemudian polisi menangkap dua wanita yang akan menyerang polisi. Selain itu, Densus menangkap teroris di Cianjur dan Sukabumi. Mereka diidentifikasi akan menyerang Mako Brimob.

Puncaknya, Amri mengatakan, serangan bom bunuh diri yang menyerang gereja di Surabaya dan Mapolresta Surabaya. Tidak hanya itu Densus juga menangkap dua teroris di Palembang. "Agama tidak mengajarkan membunuh sesama, jelas ini musuh kita bersama," katanya.

Amri tak menampik salah satu sumber teror karena banyak berita-berita hoaks. Bahwa berdasar data Kominfo lebih 50 berita di media sosial terindikasi hoaks. Karenanya masyarakat harus teliti berita di medsos. Oleh sebab itu, langkah penertiban berita hoaks harus digencarkan. Dia meminta gerakan melawan berita hoaks agar dimassifkan. "Kapolri kita ini sebenarnya cerdas, beliau sudah tahu untuk meredam aksi teror, stop berita hoaks di masyarakat," tambahnya Amri.

Sebab dengan berita hoaks masyarakat awal mudah terporovokasi. Mereka kemudian mengamini apa yang diinginkan oleh penyebar hoaks untuk memecah belah umat dan masyarakat serta ancam NKRI. Amri mengatakan, imbaun Tito kepada ulama dan tokoh masyarakat lainnya yang omongannya dapat mempengaruhi opini publik, agar dapat menyampaikan informasi yang akurat perlu didukung. Agar selalu sampaikan berita secara akurat.

"Kalau datanya enggak akurat, enggak kredibel, sedangkan figurnya dipercaya, diikuti, didengar oleh publik, ini bahaya nanti miss, bisa menyebabkan apa namanya itu kegaduhan," tutup Amri. 

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES