Sunday, 12 Ramadhan 1439 / 27 May 2018

Sunday, 12 Ramadhan 1439 / 27 May 2018

Masjid Quba Awal Mula Seni Arsitektur Islam

Selasa 24 April 2018 11:55 WIB

Rep: Syahruddin el-Fikri/ Red: Agung Sasongko

Boulevard masjid Quba Madinah.

Boulevard masjid Quba Madinah.

Foto: Arabnews.com
Masjid Quba alami sejumlah renovasi hingga tampak seperti sekarang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --Masjid Quba pernah mengalami kerusakan pada masa pemerintahan Usman ibn Affan RA kemudian dilakukan renovasi pada beberapa bangunan Masjid. Pada masa Abdul Malik bin Marwan dilakukan perluasan bangunan Masjid Quba.

Meskipun tampak sederhana, masjid Quba dianggap sebagai awal mula seni arsitektur Islam. Bahkan, berbagai masjid yang dibangun di abad 18-20 sekarang ini, banyak yang meniru model bangunan Masjid Quba.

Sebagaimana dikutip www.wikipedia.com, bangunan masjid Quba ini tampak begitu bersahaja. Seperti masjid pada umumnya, ia mempunyai empat sisi. Di sebalah utara terdapat serambi sebagai tempat ibadah yang bertiang pohon kurma, dengan atap datar dari pelepah dan daun kurma bercampurkan tanah liat.

Ketika masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz RA, ia mengembangkan Masjid Quba dan memperluas serta memperkokohnya dengan batu-batu kapur, membuat kubah-kubah dari batu dan di tengahnya di pasang tiang dari besi dan timah

. Ia juga menghiasinya dengan mozaik, membuat menara, mengatapinya, dan menjadikan bagian masjid menjadi lebih luas dan lapang. Umar bin Abdul Aziz RA adalah orang yang pertama kali membangun menara masjid Quba.

Seiring perjalanan waktu, masjid ini mengalami perbaikan lagi pada masa Jamaluddin Al-Ashfahani, seorang menteri Bani Zanki dari Kerajaan Mosul, tahun 555 H. Kemudian dilakukan renovasi lagi pada masa Dinasti Utsmaniyah hingga Suudiyah, sekarang ini.

Mengutip buku yang berjudul Sejarah Madinah al-Munawwarah yang ditulis Dr Muhammad Ilyas Abdul Ghani, masjid Quba ini telah direnovasi dan diperluas pada masa Raja Fahd Ibn Abdul Aziz pada tahun 1986. Renovasi ini menghabiskan biaya sebesar 90 juta riyal. Dari zaman Raja Fahd ini, masjid tersebut mampu menampung jamaah hingga 20 ribu orang.

Di tengah terdapat ruangan terbuka yang disebut shan. Di dalam ruangan terdapat sumur sebagai tempat wudlu. Kebersihan masjid senantiasa terjaga, dan udara serta cahaya matahari mampu menyinari seluruh area masjid dengan leluasa.

Masjid ini memiliki 19 pintu. Dari 19 pintu ini terdapat tiga pintu utama. Ketiga pintu utama tersebut berdaun pintu yang sangat besar dan ini menjadi tempat masuk para jamaah ke dalam masjid. Dua pintu diperuntukkan untuk jamaah laki-laki dan satu pintu lagi untuk jamaah perempuan.

Di seberang ruang utama masjid, terdapat ruangan yang dijadikan tempat belajar mengajar. Ruangan lainnya terdapat bagian untuk perpustakaan, perkantoran, toko, dan lainnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA