Minggu, 12 Ramadhan 1439 / 27 Mei 2018

Minggu, 12 Ramadhan 1439 / 27 Mei 2018

Hidup-hidupilah BSMI

Ahad 22 April 2018 19:41 WIB

Rep: Achmad Syalaby Ichsan/ Red: Budi Raharjo

Pendidikan, pelatihan dan kepemimpinan (Diklatpim) Dewan Pimpinan Provinsi BSMI NTB.

Pendidikan, pelatihan dan kepemimpinan (Diklatpim) Dewan Pimpinan Provinsi BSMI NTB.

Foto: Achmad Syalaby Ichsan
BSMI adalah relawan kedua terbanyak setelah tentara yang menolong korban tsunami

REPUBLIKA.CO.ID,MATARAM -- Ruslan Kasim baru saja tiba di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dia tampak tergesa untuk mengikuti pendidikan, pelatihan dan kepemimpinan (Diklatpim) Dewan Pimpinan Provinsi BSMI NTB.

Guru madrasah asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu harus transit ke Surabaya terlebih dahulu sebelum akhirnya diarahkan ke Kupang. “Enam jam, akhirnya telat,” ujar dia saat berbincang dengan Republika di Mataram, Sabtu (21/4).

Ruslan merupakan ketua Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Provinsi NTT yang baru dibentuk awal 2018 lalu. Meski baru seumur jagung, dia sudah mempunyai dua cabang di dua kabupaten yakni di Sikka dan Ende.

Bulan lalu, Ruslan dibantu dengan BSMI Provinsi Bali sudah melakukan giat khitan massal di Kupang. Pesertanya ratusan orang. Tak hanya Muslim yang disunat, mayoritas khitanan massal ini diikuti oleh warga Nasrani. Pendanaan didapatkan dari BSMI Bali dan sponsor.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) BSMI Jazuli Ambhari menjelaskan, hingga saat ini, BSMI sudah mempunyai 143 cabang di provinsi/kabupaten/kota dari Aceh hingga Papua. Mereka masuk ke dalam tujuh regional.  

NTB dan NTT tergolong ke dalam regional Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (JabalNusra). Jazuli mendata saat ini ada sekitar 300 pengurus yang aktif mengelola BSMI. Perhimpunan itu pun memiliki ratusan ribu relawan. “Belum sampai satu juta. Tapi jumlahnya ratusan ribu,” ujar dia.

Jazuli menjelaskan, BSMI berkeinginan menjadi perhimpunan yang mandiri. Untuk menyelenggarakan acara seperti Diklatpim ini, BSMI ‘mengeroyok’ anggaran agar bisa ditanggung semua baik pusat maupun cabang. “Contohnya pesawat ada yang ditanggung pusat, ada yang ditanggung Bali. Penginapan ditanggung NTB,” jelas dia.

Kemandirian coba dibangun dari dalam internal organisasi. Setiap pengurus, anggota dan relawan diwajibkan untuk membayar iuran senilai Rp 10 ribu per bulan. Hasilnya bisa digunakan untuk kas kegiatan dan operasional sehari-hari. “Kita ingin mencontoh Muhammadiyah. Jadi kita ubah, hidup-hidupilah BSMI jangan mencari penghidupan dari BSMI,” tambah dia.

Ketua BSMI Mataram Edy Suhaidi mengamini perkataan Jazuli. Dia mengungkapkan, BSMI NTB juga berupaya menghidupi perhimpunan ini lewat penghimpunan dana dari kantong sendiri. Setiap hari, mereka iuran Rp 1.000 yang dimasukkan ke dalam kencleng.

 

Selain itu, pihaknya mencoba untuk mengumpulkan dana lewat klinik BSMI. Edy menjelaskan, jumlahnya tidak banyak karena pasien tidak dikenakan tarif. Mereka membayar seikhlasnya.

Menurut Jazuli,  BSMI memang memiliki Asosiasi Klinik BSMI yang tersebar di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali, hingga NTB. Hingga saat ini, klinik tersebut berjumlah 32 unit. Klinik-klinik itu bisa mendatangkan pundi. Dari mereka, BSMI mendapatkan dana untuk kegiatan operasional organisasi hingga dana untuk bencana.

Selain itu, BSMI mendapatkan dana untuk kegiatan operasional lewat kemitraan dan bantuan atau hibah. Untuk kemitraan, BSMI menggandeng perusahaan lewat dana corporate social responsibility (CSR) dan kerjasama dengan lembaga zakat. Di NTB misalnya, BSMI setempat  bermitra dengan LAZ Dasi dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Tak hanya itu, BSMI juga menampung dana hibah atau bantuan dari berbagai donatur.

Meski dengan keterbatasan dana, BSMI bukannya minim prestasi. Pada tsunami Aceh 2004 lalu, sebanyak 342 relawan BSMI mendapatkan satya lencana dari Presiden RI. BSMI merupakan relawan kedua terbanyak setelah tentara yang terjun untuk menolong korban tsunami. Para relawan BSMI pun kerap menjadi garda terdepan dalam misi bencana. Pada banjir Bima Januari lalu, Edy berkisah, mereka menjadi relawan pertama yang mencapai TKP.

Setiap pekan, BSMI pun mempunyai aktivitas sosial. Dari pemeriksaan tensi, senam sehat, bakti sosial hingga operasi katarak gratis.. Tak hanya aktivitas kesehatan, kegiatan BSMI juga merambah ke sektor pendidikan. Di Lombok Barat misalnya, Ketua BSMI NTB dr Rohadi mengungkapkan, mereka mengerahkan relawan untuk mengajar anak-anak lewat kelas alam. "Kita garap juga pendidikan, "jelas dia.

Ketua Majelis Pertimbangan Anggota (MPA)  BSMI dr Basuki Supartono mengungkapkan,  BSMI punya relawan militan. Mereka tetap berupaya untuk berbuat demi kemanusiaan di tengah kesibukan pekerjaan.  Menurut dia,  rerata relawan BSMI bekerja sebagai dokter,  perawat dan tenaga profesional lainnya.

Meski demikian, Basuki mengakui masih ada aspek manajerial yang harus diperbaiki. Prinsip-prinsip perencanaan hingga kontrol harus terus dilakukan. Berstatus sebagai lembaga kemanusiaan, ujar Basuki, bukan berarti menanggalkan sikap profesional.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA