Wednesday, 7 Jumadil Awwal 1439 / 24 January 2018

Wednesday, 7 Jumadil Awwal 1439 / 24 January 2018

DMI Dorong Ciptakan Masjid Ramah Anak dan Keluarga

Jumat 12 January 2018 19:36 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Agus Yulianto

Sekretaris Jenderal DMI Imam Addaruqutni

Sekretaris Jenderal DMI Imam Addaruqutni

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tidak hanya sebagai tempat beribadah, Sekretaris Jenderal Dewan Masjid Indonesia (DMI), Imam Addaruqutni, mengatakan, bahwa masjid kini didorong sebagai pusat masyarakat. Artinya, masjid saat ini ditekankan juga berfungsi sebagai pusat permberdayaan masyarakat di berbagai aspek. Baik itu di bidang kesehatan, lingkungan, dan ekonomi.

Sebagai pemberdayaan masyarakat, dia mengatakan, masjid seyogyanya memiliki program yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat. Dalam hal ini, menurutnya, masyarakat yang dimaksud terdiri dari lapisan anak-anak, para ibu, laki-laki, dan secara inklusif keseluruhan dari mereka.

Di lingkup anak-anak, Imam mengatakan DMI telah mendorong masjid memiliki program anak-anak, seperti halnya program PAUD. Ia mengatakan, ada 2.500 masjid yang telah menghidupkan program penyelenggaraan PAUD.

Dengan program seperti PAUD ini, dia mengatakan, bahwa DMI telah menghidupkan lagi mata rantai generasi masjid. Sehingga, nantinya diharapkan komunitas masjid akan terbentuk lagi. Dalam hal ini, masyarakat masjid menurutnya merupakan subkultur dari masyarakat yang akan memperkaya budaya masyarakat secara seutuhnya.

Untuk mendukung program tersebut, dia mengatakan, bahwa DMI memfasilitasi dengan memberikan dana senilai Rp 40 juta untuk masjid yang hendak menghidupkan program PAUD. "Kita jadikan masjid itu sebagai pusat bermainnya anak-anak. Masjid akan kita lakukan semacam ramah anak dan mereka bersosialisasi di sana," kata Imam, di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Jumat (12/1).

Melalui masjid, Imam mengatakan, DMI juga membina keluarga profesional, dalam arti sosial dan ekonominya. DMI juga telah mencoba program dana bergulir yang harus berbasis masjid atau berasal dari jamaah masjid itu sendiri.

Dalam hal ini, dia mengatakan, masyarakat diberi modal tanpa bunga. Kemudian, masyarakat nanti akan mengembalikan modal setelah ia bisa mandiri. Modal yang dikembalikan itu kemudian bergulir kepada yang lain yang membutuhkan.

"Beberapa sukses dan bisa mengangkat keluarga dari ekonomi lemah menjadi lebih kuat. Sejauh ini, proyek percontohan masjid semacam itu baru dilakukan di masjid yang ada di Jakarta," lanjutnya.

Di samping itu, Imam mengatakan, DMI akan melanjutkan untuk melakukan pelatihan-pelatihan pemberdayaan masyarakat, termasuk di bidang ekonomi. Misalnya, dalam bentuk pelatihan kewirausahaan.

Ke depan, masjid bisa dimungkinkan untuk mendirikan kantor keuangan mikro yang sifatnya syariah atau paling tidak dalam bentuk ATM. Menurutnya, masjid bisa bekerja sama dengan lembaga keuangan, di mana mereka menyewa semacam kantor cabang di masjid. Sehingga, masjid memiliki penghasilan dari itu.

Berbagai program telah dilaksanakan DMI pada tahun-tahun sebelumnya. Sebagai pemberdayaan masjid, Imam mengatakan DMI sudah pernah mengirim 100 mobil ke masjid-masjid yang ada di seluruh provinsi di Indonesia. Mobil itu dipergunakan untuk kebersihan, perawatan masjid dan sound system. Ke depan, ia mengatakan DMI kemungkinan akan menambah jumlah mobil tersebut.

Selain itu, DMI juga telah menumbuhkan etos kerja yang positif bagi teknisi yang dikirim oleh DMI. Dalam hal ini, DMI menyelenggarakan pelatihan teknisi untuk perbaikan sound system. DMI juga kerap menggelar pelatihan manajemen dan kader ulama.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES