Rabu 27 Dec 2017 21:54 WIB
Gelar FGD Penguatan Moderasi Islam

Kemenag Kumpulkan Kiai Pesantren

Direktur Pendidikan Madrasah Kementrian Agama Nuskholis Satiawan (tengah) didampingi Kasubdit Direktorat Pendidikan Diniyah & Pesantren Dirjen Kementrian Agama Ahmad Zayadi (kiri) dan moderator Totok Amin Soefijanto, memberikan pepaparannya pada acara Disk
Foto: Republika/Darmawan
Direktur Pendidikan Madrasah Kementrian Agama Nuskholis Satiawan (tengah) didampingi Kasubdit Direktorat Pendidikan Diniyah & Pesantren Dirjen Kementrian Agama Ahmad Zayadi (kiri) dan moderator Totok Amin Soefijanto, memberikan pepaparannya pada acara Disk

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren mengundang sejumlah kyai pondok pesantren ke Jakarta. Mereka berkumpul dalam Focus Group Discussion (FGD) yang membahas penguatan moderasi Islam di pondok pesantren.

Sejumlah narasumber dihadirkan, antara lain: Direktur Deradikalisasi BNPT Prof Irfan Idris, Peneliti PPIM UIN Jakarta M Hilali Basya, Direktur Fahmina Institute Marzuki Wahid, Mantan narapidana terorisme Sofyan Tsauri.

"Tantangan umat Islam, terutama pondok pesantren hari ini dan ke depan adalah bagaimana pesantren mampu menjawab dan menyikapi perbedaan dan keragaman dalam kehidupan," ujar Zayadi di Jakarta, kemarin. 

Menurut Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Ahmad Zayadi, komunitas pesantren kaya akan khazanah pemikiran dan perspektif komparatif  yang tertuang dalam kitab-kitab kuning. Menurutnya, tidak sedikit dari kitab-kitab kuning yang memuat perspektif komparatif. Dalam kajian fikih misalnya, dikenal adanya fikih muqaran.

Kekayaan khazanah ini memberi pelajaran bagi para santri tentang  bagaimana para ulama terdahulu berargumentasi untuk menopang pendapat mereka masing-masing, meski pada akhirnya mereka mengambil pendapat yang paling unggul. 

“Pada tataran ini, para santri cenderung menyikapi perbedaan pendapat para ulama dengan kepala dingin, tanpa sikap takfir (mengkafirkan). Kondisi inilah yang dapat mengantarkan para santri  pada sikap yang tidak mudah menyalahkan orang lain sepanjang memiliki argumentasi yang kuat,” ujarnya.

Zayadi mengajak, para kiai untuk saling bertukar pikiran dan pengalaman guna merumuskan hal terbaik bagi pengembangan pesantren, khususnya dalam penguatan moderasi Islam. "Mari bersama-sama membangun bangsa Indonesia ke depan dalam perspektif orang-orang pesantren yang senantiasa menghargai warisan tradisi intelektual masa lalu, tanpa harus menutup diri dari konstelasi perubahan dan perkembangan zaman," ujar Zayadi.

“Kondisi inilah, diakui atau tidak, menjadi benteng paling kokoh yang melindungi komunitas pesantren dari infiltrasi paham ideologi yang radikal,” tandasnya.

sumber : kemenag.go.id
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement