Senin 11 Dec 2017 09:15 WIB

Fahira: Pengadangan Terhadap Ulama Terus Terulang, Jika...

Rep: Ali Mansur/ Red: Agus Yulianto
Wakil Ketua Komite III DPD RI Fahira Idris.
Foto: Dok Humas DPD RI
Wakil Ketua Komite III DPD RI Fahira Idris.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aksi penghadangan yang dilakukan segelintir orang kepada ustaz, terus terjadi. Belum lama ini, nasib itu dialami oleh Ustaz Abdul Somad. Ketua Komite III Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Fahira Idris pun mengecam aksi penghadangan tersebut.

"Apabila polisi tidak tegas melakukan tindakan hukum terhadap otak dan pelaku penghadangan maka ke depan kejadian serupa akan terulang dan ini sangat berbahaya karena bisa menimbulkan keresahan sosial yang besar," tegas Fahira Idris, dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Senin (11/12).

Sebelumnya, penghadangan terhadap Ustaz Somad dilakukan segelintir orang saat hendak melakukan safari dakwah di Kota Denpasar, Bali. Aksi penghadangan yang mengatasnamakan Cinta Pancasila dan NKRI Harga Mati malah dilakukan dengan nilai-nilai yang bertentangan dengan Pancasila dan berpotensi merusak harmoni antarumat beragama

"Peristiwa seperti ini kan bukan kali pertama terjadi," tegas Fahira.

Sebelumnya, ucap dia, penghadapan terhadap ulama dan tokoh sudah pernah tejadi bahkan masuk bandara dan bawa senjata tajam. Namun sampai saat ini, dirinya tidak mendengar ada tindakan hukum kepada para pelaku. Jadi ke depan, kata Fahira, jika polisi tidak tegas, penghadangan terhadap tokoh dan ulama yang menurut versi mereka tidak cinta NKRI dan Pancasila pasti akan terjadi dan ini sangat berbahaya keharmonisan bangsa.

Fahira mengungkapkan, saat ini, terjadi penurunan pemaknaan makna cinta Pancasila dan NKRI yang sangat mengkhawatirkan karena ada sekelompok masyarakat yang dengan percaya diri menyatakan diri paling Pancasila dan paling cinta NKRI, sementara kelompok yang lain anti-Pancasila dan NKRI hanya karena berbeda pendapat, pandangan, dan kritis terhadap pemerintah. Penghadangan terhadap Ustadz Abdul Somad, lanjut Fahira, selain bentuk kegagalan berpikir juga adalah bentuk arogansi mengatasnamakan Pancasila dan NKRI.

"Memaksa Ustaz Somad ikrarkan kebangsaan apalagi disertai intimidasi, ancaman, dan kata-kata kasar oleh gerombolan orang yang sama sakali tidak punya otoritas untuk itu adalah tindakan yang sangat merendahkan," tegasnya.

Selama ini, yang mengundang ustadz Abdul Somad berceramah itu mulai dari pejabat negara, kepala daerah, bahkan satuan-satuan TNI di daerah, hingga kelompok pengajian biasa dari seluruh Indonesia. Mana mungkin mereka mengundang Ustaz Somad kalau beliau anti-NKRI.

Kecintaan Ustaz Somad terhadap NKRI, menurut Fahira, bukan lagi sekedar teriak-teriak saya Pancasila saya NKRI, tetapi sudah diamalkan. Ustaz Somad, rutin turun ke desa-desa terpencil mengajarkan cinta Tanah Air kepada anak-anak bangsa.

"Sekarang saya mau tanya, apa yang sudah dilakukan orang-orang yang menghadang Ustadz Somad terhadap NKRI dan Pancasila?" tanya Fahira.

Menurut Fahira, hal itu terjadi, akibat jika merasa diri paling NKRI, paling Pancasialias. Sehingga orang yang berbeda pendapat dan pandangan dianggap tidak cinta NKRI dan Anti Pancasila. Paradigma seperti ini sangat berbahaya bagi keutuhan kita sebagai sebuah bangsa.

Oleh karena itu, sambung Fahira, kepolisian harus melakukan tindakan hukum terhadap otak dibalik kejadian yang bisa memicu keresahan umat ini. Dia juga meminta kepada semua umat Islam untuk tenang, tunjukkan umat Islam lebih dewasa menyikapi perbedaan pendapat, pandangan, dan keyakinan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement