Jumat , 08 December 2017, 09:15 WIB
Belajar Kitab

Membuka Tabir Bangsa Jin

Rep: Nashih Nasrullah/ Red: Agung Sasongko
Antara
Kitab Kuning
Kitab Kuning

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perbincangan soal jin dan dunia mereka, seakan tak pernah ada habisnya. Penuh misteri. Ada banyak hal yang belum terungkap dan masih menyisakan tanda tanya besar. Berbagai upaya di level akademik atau observasi langsung dilakukan demi menjawab segudang pertanyaan tentang bangsa jin dan hakikat mereka.

Kitab yang ditulis Badruddin bin Abdullah as-Syibly, yang berjudul Ajaib wa Gharaib al-Jin ini, adalah entri penting yanng memperluas cakrawala seputar jin. Kitab yang manuskripnya ditemukan pertama kali dengan judul Akam al-Marjan fi Ahkam al-Jan ini, memuat beberapa bahasan penting yang menjawab secara fundamental apa pun terkait bangsa halus tersebut.

Inilah yang melatarbelakangi sebagian kalangan, mendaulat kitab karangan tokoh yang juga dikenal sebagai qadi itu sebagai referensi terpenting, bahkan kitab paling komprehensif seputar jin yang pernah ditulis pada Abad Pertengahan.

Dalam kitab yang dicetak oleh al-Azhar, Mesir pada 1358 M dengan judul  Akam al-Marjan fi Gharaib al-Akhbar  wa Ahkam al-Jan dibeberkan secara lugas berbagai jawaban atas pertanyaan seputar Jin. Syekh Badruddin yang bermazhab Hanafi itu mengisahkan, mengapa ia tertarik membahas persoalan jin? Ini tak lain didorong munculnya perdebatan tentang pernikahan antara manusia dan jin pada masa itu. Saya pun tergerak menulis kitab yang pada masa itu dibilang asing ini, kata dia dalam mukadimah.

Hal mendasar yang dicoba diyakinkan oleh Syekh Badruddin adalah keberadaan jin itu sendiri. Sosok yang wafat pada 729 H ini menegaskan keberadaan jin. Secara logika dan rasionalitas, serta tentu didukung dengan dalil tekstual baik dari Alquran dan sunah, keberadaan jin tidak bisa dinafikan. Mereka ada hidup di alam lain, yang berbeda dengan dunia manusia.

Ia menepis asumsi para filsuf dan sebagian cendekiawan Muslim dari Sekte Qadariyah dan mayoritas Mu'tazilah yang enggan percaya keberadaan jin. Bukan berarti mereka tak kasat mata dan tak teraba indera, lantas mereka tak ada. Banyak bukti baik berupa dalil tekstual maupun konsensus ulama sejak masa sahabat hingga tabiin yang menguatkan keberadaan jin.