Rabu , 06 December 2017, 04:15 WIB

Kedengkian Menjadi Tabiat Manusia Paling Hina

Red: Agus Yulianto
cover buku mizan
Dengki (ilustrasi)
Dengki (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Kedengkian dipandang sebagai watak paling hina yang bisa menghancurkan hidup manusia di dunia. Pendengki selalu diliputi perasaan dengki terhadap setiap orang yang mendapat nikmat. Orang bijak berkata, “Kedengkian adalah api yang akan membakar pemegangnya.”

Dikutip dari Ensiklopedia Alquran bahwa menurut sebagian musafir, Allah SWT mengumpulkan berbagai jenis kejahatan dalam surah al-Falaq dan mengakhirinya dengan persoalan dengki. Sebab, dengki merupakan watak yang paling hina.

Dalam hadis Nabi SAW yang diriwayatkan Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq ra disebutkan bahwa Beliau bersabda, “(Kekuatan) mata orang jahat itu benar adanya.” Dalam hadis lain dikatakan, “Takutlah terhadap mata yang diliputi kedengkian, walaupun (pandangan) mata kucing.”

Orang dengki cenderung membenci segala kebaikan yanng diraih orang lain, meskipun sebelumnya tak ada permusuhan di antara mereka. Ibnu Mas’ud ra melaporkan bahwa suatu ketika Rasulullah SAW dikunjungi sekelompok orang yang ingin mendapat nasehat dan petunjuk Beliau.

Di antara nasihatnya adalah, “Janganlah kalian memusuhi karunia Allah!” Mendengar itu, seseorang di antara mereka bertanya, “Adakah orang yang memusuhi karunia Allah, wahai Rasulullah?” Nabi SAW menjawab, “Mereka yang dengki terhadap orang lain.”

Di antara hadis Nabi SAW yang terdapat dalam kitab shahih Bukhari dan Muslim adalah, “Rahasiakanlah dalam memenuhi kebutuhanmu. Sebab, setiap orang yang dianugerahi nikmat akan didengki orang lain.”

Anas bin Malik ra mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sikap dengki menghilangkan kebaikan sebagaimana api melalap habis kayu bakar.” (HR. Ibnu Maja dan Abu Daud)

Terdapat sejumlah komentar yang disampaikan Imam Ali ra tentang sikap dengki. Di antaranya, “Sungguh, betapa adilnya sebuah kedengkian! Ia bermula dari pedengki, lalu membunuh dirinya sendiri.”

Komentar Imam Ali bin Abi Thalib tersebut menggambarkan hakikat kedengkian. Sebab, apabila kedengkian merasuk ke dalam kalbu seseorang, hidupnya akan selalu diliputi kedengkian, kerisauan, dan kesedihan. Walaupun ia berhasil meraih apa yang diinginkan, api kedengkian akan terus membakar kalbunya.

Utsaman bin Affan pernah dibenci seseorang. Ia memang dikenal sangat kaya dan mempunyai kedudukan istimewa di sisi Rasulullah SAW. Ia digelari dzun an-nurayni karena menikahi dua putri Rasulullah SAW, Ruqayyah dan Ummi Kultsum. Karena itu, untuk melindungi dirinya dari kedengkian orang, Utsman ra selalu membaca surat al-Falaq.

Di antara ungkapannya tentang sikap dengki adalah, “Cukuplah sebagai balasan bagi orang yang dengki kepadamu, ia risau di saat engkau senang.”

Ungkapan Utsman tersebut mengandung beberapa hikmah. Ketika seseorang menyadari dirinya sedang dibenci orang lain karena nikmat yang diperolehnya, maka pada saat itulah dirinya merasa seseorang memusuhinya. Perasaan sedang dimusuhi dapat mengeruhkan hidup. Oleh karena itu, perasaan tersebut sebaiknya dihilangkan, biarkan orang yang dengki itu membunuh dirinya sendiri dengan sikapnya yang tercela. Wallahualam

Berita Terkait