Potret Perkembangan Bisnis Makanan Halal di Negeri Sakura
Rabu , 15 November 2017, 08:13 WIB

dok. kemenag.go.id
Menu halal di resto halal Sumiyakiya Yakiniku di Minato Tokyo

IHRAM.CO.ID, TOKYO -- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam kunjungan kerjanya ke Universitas Keio, Tokyo, Senin (13/11) berdiskusi dengan sejumlah mahasiswa. Salah satu tema yang dibahas adalah soal makanan halal di Negeri Sakura.

Dalam kesempatan itu, Lukman mendengarkan, presentasi dari empat mahasiswa Jepang dan dua mahasiswa Indonesia yang kuliah di sana.  Giliran pertama adalah mahasiswi bernama Mitsuko yang bercerita tentang pengalamannya selama setahun tinggal di Bandung. Ia berteman dengan banyak Muslim di rumah kosnya. Salah seorang teman yang menggemari masakan Jepang mengajaknya untuk  membuat bumbu ala Jepang yang halal.

“Orang Muslim begitu peduli dengan makanan halal yang bebas dari babi dan alkohol. Sementara orang Jepang tidak ada pantangan makan apa pun,” kata Mitsuko tentang perbedaan Muslim Indonesia dan orang Jepang.

Namun, kata dia, saat ini pemerintah Jepang sedang mengembangkan bisnis halal dan wisata halal. Akhir-akhir ini, di Jepang sedang menjamur resto-resto halal.

Ini karena masyarakat Jepang menghargai kepercayaan orang lain dan menyambut baik kaum Muslim.  "Sebagai manusia hendaknya saling menghormati antara satu dengan lainnya,” katanya berfilosofi.

Presentasi berikutnya, dua mahasiswi yang mempresentasikan Proyek Simbiosis Asia Tenggara terkait makanan halal. Mereka berdua melakukan riset di beberapa negara Asean untuk mengembangkan wisata halal di Jepang. Mereka bahkan telah membuat aplikasi khusus untuk komunitas muslim di Jepang.

Aplikasi itu memudahkan orang untuk mencari informasi tentang resto halal di Jepang. Bersama timnya mereka mendata resto-resto halal dan juga melihat proses di dalamnya, apakah sudah sesuai standar halal atau belum. Setelah itu, mereka memasukan datanya ke aplikasi.

Mereka juga menerbitkan semacam buletin sebagai panduan bagi muslim yang ingin mencari resto halal. Buletin itu diberi judul Muslim Friendly Restaurant Guidebook Kanagawa.

Mulyadi, mahasiswa S3 asal Sambas Kalimantan Barat mendapat giliran berikutnya. Dia mengaku, sedang menimba ilmu bidang Geographic Information System (GIS). Ia memulai presentasi dengan kelakar.

"Kalau orang belajar di Timur Tengah selama 6 - 7 tahun maksimal bisa menjadi ahli tafsir saja, tapi kalau  belajar di Jepang, baru satu  hari langsung jadi mujtahid. Sebab, dia harus menentukan pilihan-pilihan hidup sesuai prinsip Muslim sendiri." Ujarnya disambut tawa.

Menurut Mulyadi, masyarakat Jepang sangat menerima dan menghormati umat Islam. Itulah sebabnya mereka berusaha menyediakan makanan halal bahkan mushalla di kampus. Selain itu, masyarakat juga amatvdisiplin dan sangat rasional, sehingga bisa mencapai puncak peradaban yang tinggi.

Mulyadi mengaku, menemukan Islam di negeri ini karena ajaran nabi Muhammad diamalkan, misalnya soal kejujuran, menghargai, waktu, menjaga kebersihan, menghormati orang tua, menghormati tamu, dan lain-lain. "Orang Jepang juga menghormati alam, sehingga keluhuran budi dan kearifannya terjaga," pungkasnya.

Redaktur : Agus Yulianto
Sumber : kemenag.go.id
BERITA TERKAIT