Selasa , 14 November 2017, 23:59 WIB

Indahnya Berbakti kepada Suami (II)

Rep: Nashih Nasrullah/ Red: Agung Sasongko
Wihdan Hidayat/Republika
Sepasang Suami-Istri (ilustrasi)
Sepasang Suami-Istri (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Petuah Rasulullah kembali mendekati putrinya dan berkata, Jika Allah menghendaki wa hai Fatimah, niscaya penggilingan itu ber putar dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi, Allah menghendaki beberapa ke baik an ditulis untukmu dan kesalahanmu dihapus serta derajatmu diangkat beberapa derajat. Wahai Fatimah, perempuan mana yang menggiling tepung untuk suaminya dan anak-anaknya, Allah akan menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat.

Lanjut Rasulullah, sambil terus me na tap wajah Fatimah. Wahai Fatimah, pe rem puan mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk suaminya, Allah SWT menjadikan antara dirinya dan nera ka tujuh buah parit. Wahai Fatimah, lanjut Rasulullah, Perempuan mana yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir rambut mereka dan mencuci pakaian mereka, Allah SWT akan mencatatkan baginya ganjaran pahala orang yang memberi makan kepada seribu orang yang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang yang bertelanjang.

Dan sabda Rasulullah, Perempuan ma na yang menghalangi hajat tetangga-te tangganya, Allah SWT akan menghalangi nya dari meminum air telaga Kautsar pada hari kiamat. Karena itu, kata Rasulullah, da lam hal ini yang lebih utama dari itu se mua adalah keridhaan suami terhadap istrinya. Jikalau suamimu tidak ridha denganmu, tidaklah akan aku doakan kamu. Ti dak lah engkau ketahui wahai Fatimah bah wa ridha suami itu daripada Allah SWT dan kemarahannya itu dari kemarahan Allah SWT.

Mendengarkan perkataan ayahnya yang berisikan ilmu itu, Fatimah tidak lagi me nangis. Ia sadar merasa bersalah atas kese dihannya. Melihat Fatimah menyadari kesalahannya itu, Rasulullah melanjutkan perkataannya bahwa apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, para malaikat memintakan ampun untuknya dan Allah akan mencatatkan bagi wanita itu tiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan darinya seribu kejahatan.

Dan, lanjut Rasulullah, apabila perempuan itu mulai sakit hendak melahirkan, Allah mencatatkan untuknya pahala orangorang yang berjihad pada jalan Allah, yakni berperang sabil. Dan apabila perempuan itu melahirkan anak, ia akan terbebas dari dosa, sebagai mana ia terlahir kembali dari rahim ibunya. Dan bila ia meninggal dunia dalam keadaan berdosa, akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman surga.

Dan Allah akan mengaruniakannya pahala seribu haji dan seribu umrah serta seribu malaikat memintakan ampun untuk nya hingga hari kiamat. Fatimah hanya terdiam tidak bersuara. Ia hanya sedikit mengangguk- angguk ke tika sang ayah mengatakan Allah akan mem berikan pahala seribu haji dan umrah. Antusias Fatimah ingin sekali mendapatkan pa hala seperti itu.

Melihat Fatimah antusias dengan petuahnya, Rasulullah melanjutkan dengan berkata, Perempuan mana yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta niat yang benar, Allah akan mengampuni semua do sanya dan Allah akan memakaikannya pa kaian yang hijau dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya seribu kebaikan.

Dan, masih dikatakan Rasul, yaitu pe rempuan mana yang tersenyum di hadapan suaminya, Allah akan memandangnya de ngan pandangan rahmat dan perempuan ma na yang menghamparkan hamparan atau tempat berbaring atau menata rumah un tuk suaminya dengan baik hati, berserulah untuknya penyeru dari langit (malai kat).

Teruskanlah amalmu, Allah telah meng ampunimu akan sesuatu yang telah lalu dari dosamu dan sesuatu yang akan datang, titah Rasul. Merasa bersalah, Fatimah pun memeluk ayahandanya sembari berkata, Aku ingin menjadi perempuan yang mendapatkan pahala atas pelayananku terhadap suami. Rasul pun mengamini apa yang diinginkan putrinya tersebut.