Rabu , 15 November 2017, 04:03 WIB

Mengapa Dinamakan Sidratul Muntaha?

Rep: Mgrol97/ Red: Agus Yulianto
Mencintai Nabi Muhammad SAW (ilustrasi)
Mencintai Nabi Muhammad SAW (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Dinamakan Sidratul Muntaha karena segala yang naik dari bumi berakhir di sana, lalu ditahan. Demikian pula akan berakhir di sana, segala yang diturunkan dari atas, lalu ditahan. Akar Sidratul Muntaha tertancap di langit keenam sementara cabang-cabangnya menjulang di langit ketujuh. Adapun besarnya menaungi ketujuh langit dan surga.

Allah SWT berfirman, “Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka, apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratilmuntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm:11-18)

Dikisahkan dari Ensiklopedia Alquran bahwa Sidrah adalah pohon bidara yang buahnya terasa sangat manis. Di sekujur dahan pohon itu terdapat duri tajam. Bentuk jamak dari kata sidrah adalah sidr. Selain ayat tersebut, kata sadr di sebutkan di tiga tempat dalam Alquran. Namun pengertian yang disebut dalam surah An-Najm berbeda dalam surah Saba’.

Misalnya, Allah SWT berfirman tentang penduduk Saba’ yang mengingkari nikmat-Nya: “Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon cemara, dan sedikit pohon bidara (sidr).” (QS. Saba:16)

Para perawi hadis berselisih pendapat mengenai letak Sidratul Muntaha, yakni berada di langit keenam ataukah di langit ketujuh. Nawawi berupaya mempertemukan kedua pendapat. Akar Sidratul Muntaha kemungkinan tertancap di langit keenam, sementara cabang-cabangnya menjulang di langit ketujuh.

Diriwayatkan pula bahwa Sidratul Muntaha ini sangatlah besar. Bahkan besarnya sampai menaungi ketujuh langit dan surga. Muslim dan banyak periwayat hadits lainnya menyebutkan bahwa dinamakan Sidratul Muntaha karena segala yang naik dari bumi berakhir di sana, lalu ditahan.

Sejumlah perawi hadits menisbatkan persoalan Sidratul Muntaha kepada sabda Rasulullah SAW,  “Sidratul Muntaha diselimuti cahaya Allah SWT dan diliputi para malaikat. Mereka seolah-olah belalang dari emas karena takut kepada Allah SWT. Ia berpindah-pindah sehingga tidak seorang pun dapat menggambarkannya.”