Selasa , 14 November 2017, 04:56 WIB

Jatuh Bangun Kedua Sahabat dalam Perjanjian Hudaibiyah

Rep: Mgrol97/ Red: Agus Yulianto
nativepakistan.com
Suasana kota Makkah pada tahun 1850
Suasana kota Makkah pada tahun 1850

REPUBLIKA.CO.ID, Perjanjian Hudaibiyah telah merugikan kaum Muslimin. Duka dan tekanan yang sangat mendalam dialami para sahabat dari perjanjian ini. Di antaranya Abu Bashir dan Abu Jandal, dua sahabat Nabi SAW yang kisahnya menjadi perhatian. Begitu kuatnya keislaman mereka, maka kekuatan apapun tidak akan membuat mereka lepas dari agama Allah.

Dikisahkan dari buku “Himpunan Fadhilah Amal” karya Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi Rah.a bahwa pada tahun keenam Hijrah Nabi Saw ke Madinah, Beliau ingin berumrah dan berziarah ke Makkah. Kabar ini diketahui oleh orang-orang kafir Makah yang membuat mereka merasa terhina. Sehingga, mereka berencana untuk menghalangi perjalanan Nabi SAW di suatu tempat bernama Hudaibiyah.

Pada saat itu, Nabi SAW pergi bersama para sahabat yang telah siap mengorbankan jiwa raga mereka di jalan Allah. Namun, demi kebaikan penduduk Makkah, Nabi SAW tidak menghendaki perang. Beliau berusaha mengadakan perjanjian dengan mereka.

Meski saat itu para sahabat telah siap berperang, Nabi SAW tetap memperhatikan orang-orang kafir dan menerima syarat yang mereka ajukan. Sebenarnya para sahabat sangat tertekan dengan perjanjian ini, tetapi mereka tidak dapat berbuat apa pun terhadap keputusan Nabi SAW. Sebab jiwa raga mereka telah diserahkan untuk menaati beliau, bahkan seorang pemberani seperti Umar pun merasa tertekan dengan perjanjian ini.

Adapun salah satu isi keputusan perjanjian tersebut adalah: Orang-orang kafir yang telah masuk Islam dan berhijrah, harus dikembalikan ke Makah dan orang Islam yang murtad dari Islam tidak dikembalikan ke kaum Muslimin.

Belum sah perjanjian itu, seorang sahabat bernama Abu Jandal ra yang telah ditahan, disiksa, dan dirantai oleh kaum kafir karena keislamannya, jatuh bangun mendatangi Nabi SAW dan sahabat. Ia berharap dapat bergabung dengan kaum muslimin dan terbebas dari musibah yang dialaminya.

Ayahnya yang bernama Suhail, pada saat itu merupakan wakil orang kafir dalam perjanjian Hudaibiyah (ia akan masuk Islam pada saat fathul Makah). Ia menampar anaknya dan memaksanya kembali ke Makkah. Sabda Nabi SAW kepada Suhail, “Perjanjian belum diputuskan, maka belum ada peraturan yang berlaku.”

Suhail terus memaksa disahkannya perjanjiann tersebut dan Nabi SAW menjawab, “Aku meminta agar ada satu orang yang diserahkan kepadaku.” Namun mereka menolak pertukaran itu. Abu Jandal ra berkata kepada kaum Muslimin, “Aku datang untuk masuk Islam, banyak penderitaan yang aku alami. Sayang, aku akan dikembalikan lagi.”

Hanya Allah yang mengetahui betapa sedihnya para sahabat ketika itu. Atas nasihat Nabi SAW, Abu Jandal ra bersedia kembali ke Makkah. Nabi SAW berusaha menghibur hatinya dan menyuruhnya tetap bersabar. Beliau bersabda, “Dalam waktu dekat, Allah akan membukakan jalan bagimu.”

Setelah selesai perjanjian Hudaibiyah, seorang sahabat yang bernama Abu Bashir ra melarikan diri ke Madinah setelah keislamannya. Kaum kafir mengutus dua orang untuk membawanya kembali ke Makkah. Sesuai dengan perjanjian, Nabi SAW mengembalikan Abu Bashir ra kepada mereka.

Abu Bashir berkata, “Ya Rasulullah, aku datang setelah menjadi Muslim, dan engkau kembalikan aku kepada kaum kufirr?” Nabi SAW menasehatinya agar bersabar, “Insya Allah, sebentar lagi Allah akan membukakan jalan bagimu.” Akhirnya, Abu Bashir dikembalikan ke Makkah bersama kedua utusan tadi.

Di tengah perjalanan, Abu Bashir ra berkata kepada seorang penjaganya, “Hai kawan, pedangmu bagus sekali.” Karena merasa pedangnya dipuji, orang itu dengan bangga mengeluarkannya dan memberikannya kepada Abu Bashir sembari berkata, “Ya aku telah menebas banyak orang dengan pedang ini.”

Begitu berada di tangan Abu Bashir, ia langsung mencoba pedang itu kepada pemiliknya. Ketika penjaga yang lain melihat temannya tewas, ia berpikir selanjutnya adalah gilirannya. Maka, ia langsung melarikan diri ke Madinah dan menghadap Nabi SAW. “Temanku telah dibunuh dan sekarang akan tiba giliranku,” adunya pada Nabi SAW.

Pada saa itu Abu Bashir ra pun tiba di hadapan Nabi SAW. Ia berkata, “Ya Rasulullah, engkau telah memenuhi janjimu dengan mereka, dan aku pun telah dipulangkan, namun aku tidak memiliki janji apa pun yag menjadi tanggung jawabku atas mereka. Kulakukan semua ini karena mereka berusaha mencabut agama dariku.”

“Kamu telah menyulut api perang. Seandainya ada yang dapat menolongmu.” Atas sabda Nabi SAW itu, Abu Bashir ra memahami bahwa jika ada kaum kafir yang memintanya kembali, maka ia akan dikembalikan lagi kepada mereka. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat di dekat pantai.

Berita ini telah tersiar kepada orang-orang di Makkah. Maka, Abu Jandal ra. pun  melarikan diri dan bergabung dengan Abu Bashir ra. Demikian pula dengan orang-orang yang telah masuk Islam, banyak yang bergabung dengan mereka.

Dalam  beberapa hari mereka menjadi segerombolan kecil. Sampai akhirnya mereka berada di sebuah hutan yang di dalamnya tidak ada makanan atau kebun sedikit pun, bahkan penduduk. Hanya Allah yang mengetahui keadaan mereka. Jika ada kafillah orang-orang kafir yang melewati tempat tersebut, mereka akan melawannya.

Kaum kafir di Makkah pun merasa ketakutan sehingga mereka terpaksa menjumpai Nabi SAW dan merayunya dengan membawa nama Allah, alasan kekeluargaan, dan sebagainya agar Abu Bashir beserta lainnya dipanggil. Akhirnya, Nabi SAW menulis surat kepada Abu Bashir dan lainnya agar mereka kembali. Ketika surat itu tiba di tangan Abu Bashir, ia sedang menderita sakit yang sangat parah. Dan ia wafat ketika tangannya sedang  memegang surat Nabi SAW. (Bukhari - Fathul Bari)