Ahad , 05 November 2017, 04:03 WIB

Ketika Rambut Nabi Muhammad SAW Beruban

Rep: Mgrol97/ Red: Agus Yulianto
saudigazette.com
suasana Makkah di masa puncak musim haji tempo dulu
suasana Makkah di masa puncak musim haji tempo dulu

REPUBLIKA.CO.ID, Nabi Muhammad SAW sebagai sosok teladan tak pernah memikirkan nasibnya tatkala Allah SWT mengabarkan tentang hal-hal yang akan terjadi di hari Kiamat. Tetapi, yang dipikirkannya hanyalah tentang umatnya. Kesedihan serta belas kasihannya terhadap umatnya yang berbuat maksiat sangat membekas di dalam lubuk hatinya.

Dikutip dari Ensiklopedia Alquran, para nabi dan utusan Allah SWT memang tidaklah sama satu dengan yang lain, baik dari segi akhlak maupun perangainya. Nabi Nuh AS hidup bersama kaumnya selama 950 tahun. Beliau senantiasa memberi nasihat dan peringatan kepada mereka.

Namun demikian, jumlah orang yang beriman dan mengikutinya hanya segelintir saja. Akhirnya, Nabi Nuh AS memohon kepada Allah SWT agar membinasakan seluruh orang kafir. Beliau berkata sebagaimana diabadikan dalam QS. Nuh ayat 26: “Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.”

Adapun Nabi Ibrahim AS, bapak para nabi memiliki perangai yang halus dan berhati lembut. Beliau bersedih karena melihat keterjerumusan orang kafir dan penyembah berhala. Beliau merasa kasihan kepada mereka karena pada hari Kiamat, neraka siap menyambut mereka.

Beliau berdoa kepada Allah SWT sebagaimana diabadikan dalam dua ayat berikut : “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala itu yang telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.Ibrahim 35-36)

Sementara Nabi Muhammad SAW sangat bersedih dikarenakan kaum musyrik tetap tidak mau beriman kepadanya. Dalam Alquran terdapat banyak ayat yang memperlihatkan hati dan sifat belas kasih beliau.

Alkisah pada suatu hari Abu Bakar ra melihat sebagian rambut Rasulullah SAW memutih. Karena heran melihatnya, Abu Bakar lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, kuperhatikan rambut Anda telah beruban? ”Dengan raut wajah seolah sedang berpikir keras, Nabi SAW menjawab, “Benar! Surah Hud dan sejenisnya (ayat tentang hari kiamat) membuatku beruban.”

Maka tatkala beliau bersedih memikirkan nasib umatnya, Allah menegurnya: “Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Alquran).” (QS.al Kahfi ayat 6).