Senin 23 Oct 2017 07:04 WIB

Ciri Pemimpin Sejati Itu Gelisah Melihat Situasi Sekitar

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Esthi Maharani
Mencintai Nabi Muhammad SAW (ilustrasi)
Mencintai Nabi Muhammad SAW (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Gerakan Sekolah Menyenangkan jadi salah satu pemateri Pelatihan Pemimpin Bangsa di Grha Sabha Pramana. Pelatihan diikuti ratusan perwakilan dari Badan Ekskutif Mahasiswa (BEM) seluruh Indonesia.

Founder Gerakan Sekolah Menyenangkan, Muhammad Nur Rizal mengingatkan, salah satu ciri dari sosok pemimpin sejati tidak lain yaitu kegelisahan diri melihat situasi sekitar. Karenanya, ia menekankan kalau perubahan sosial bisa dimulai dengan mempertanyakan ketidakadilan sekitar.

"Mulai jaman Nabi Muhammad SAW dulu, sosok pemimpin sejati itu dia yang gelisah melihat situasi sekitar," kata Rizal kepada ratusan BEM dari kampus-kampus seluruh Indonesia.

Ia menegaskan, ini yang merupakan penggerak utama dari sosok-sosok pemimpin hebat seperti Martin Luther King, HOS Cokroaminoto, dan sampai Soekarno muda sekalipun. Luther King misalnya, yang mampu mengumpulkan pergerakan begitu banyak orang walau bukan seorang presiden.

Lalu ada Cokroaminoto, yang mulai membuat gerakan setelah jadi sekretaris yang bekerja untuk Belanda. Terutama, saat melihat momen pesuruh Indonesia yang terkena marah, sampai dipaksa untuk memegang panci air panas oleh majikan Belandanya.

"Kala itu, Cokroaminoto marah, keluarlah dia dari pekerjaan itu dan berjanji akan melawan kesewenang-wenangan yang saat itu terjadi di Indonesia," ujar Rizal, Ahad (22/10).

Hal ini ditiru Soekarno muda yang saat itu memang indekos di tempat HOS Cokroaminoto. Bahkan, Soekarno melihat langsung bagaimana Cokroaminoto bisa mengggerakan rakyat-rakyat kecil melawan Belanda, dan semua yang ada di diri Soekarno pun ditinggalkan demi perjuangan.

Padahal, lanjut Rizal, Soekarno saat itu memiliki banyak kesempatan emas, terutama karena ia merupakan satu dari hanya lima lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB), yang tentu mempunyai kesempatan menjadi orang kaya yang begitu besar.

"Tapi tidak, dia lebih memilih berjuang, mengedukasi masyarakat tentang persamaan hak yang harusnya mereka dapatkan," kata Rizal.

Secara garis besar, karakter pemimpin itu mulai dari kegelisahan, lalu mencari dan menemukan penghalangnya, dan memiliki keinginan kuat untuk menyelesaikan persoalan itu. Namun, ia mengingatkan, karakter itu bukan sesuatu yang instan, melainkan terus berkembang.

Lebih lanjut, Rizal merasa sosok pemimpin pasti selalu ingin belajar, tidak merasa jadi orang yang tahu semuanya agar sikapnya terbuka akan pembaruan. Sikap itu yang dianggap akan maju dan berkembang, sehingga orientasinya melayani dan berkontribusi.

"Pemimpin yang terbuka akan memiliki multi perspektif, sehingga mampu membujuk orang lain untuk mengikuti mimpinya, dan semua itu bisa terjadi jika tujuan mimpinya untuk kemaslahatan orang banyak, bukan kepentingan pribadinya," ujar Rizal.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement