Selasa , 17 October 2017, 21:19 WIB
zikir Ulama dan Habaib di Mapolda Metro Jaya

Bertemunya Penyeru Kebajikan dan Penghalang Kemungkaran

Rep: Muhyiddin/ Red: Agus Yulianto
ROL/Fakhtar K Lubis
Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis
Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Polisi menggelar zikir bersama ulama dan habaib se-DKI Jakarta di Mapolda Metro Jaya pada Selasa (17/10) sore. Dalam kegiatan kegamaan tersebut Habib Umar bin Fafiz dari Tarim Hadhramaut, Yaman, didatangkan untuk memimpin doa.

Acara tersebut juga dihadiri Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis. Kiai Cholil mengatakan, kegitan tersebut menjadi sarana silaturrahim antara ulama dengan kepolisian sekaligus zikir untuk keselamatan bangsa.

"Silaturrahim antara ulama dengan kepolisian adalah bertemunya penyeru kebajikan (amar ma'ruf) dengan penghalang kemunkaran (nahi mungkar)," ujarnya kepada Republika.co.id, Selasa (17/10).

Karena, lanjut dia, tugas ulama adalah menjelaskan dan penyeru kebaikan sedangkan Polisi adalah penghalang terhadap kemaksiatan. Menurut dia, jika penyeru kebaikan dan petugas nahi munkar bertemu maka Republik Indonesia ini akan menjadi Republik yang aman, damai dan sentosa dalam ridha Allah.

"Ulama penyeru ma'ruf dan nahi munkar dengan lisan nasihatnya maka polisi menegakkan dengan tangan kewenangannya," ucapnya.

Ia pun mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk mendoakan negeri ini agar tetap utuh dan bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Rebublik Indonesia. Sebab, menurut diq, ancaman dari luar dan dari dalam selalu ada dan nyata merongrong untuk merobek persatuan dan kesatuan.

"Menghadapi tahun-tahun politik dan di tengah arus dunia maya dengan medsos maka silaturrahim langsung menjadi sarana perekat antar elemen anak bangsa untuk menjaga NKRI," katanya.