Jumat , 13 October 2017, 19:15 WIB

Masjid Sultan Ahmed, Mengapa Disebut Masjid Biru?

Rep: mgrol98/berbagai sumber/ Red: Agung Sasongko
 Umat Islam berkumpul di masjid Sultan Ahmed atau yang lebih dikenal dengan masjid Biru di Istanbul, Turki, Rabu (17/6), untuk melaksanakan shalat tarawih.  (AP/Emrah Gurel)
Umat Islam berkumpul di masjid Sultan Ahmed atau yang lebih dikenal dengan masjid Biru di Istanbul, Turki, Rabu (17/6), untuk melaksanakan shalat tarawih. (AP/Emrah Gurel)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masjid Sultan Ahmad atau yang lebih dikenal Masjid Biru (Disebut Sultanahmet Camii dalam bahasa Turki) merupakan salah satu masjid dan juga tempat bersejarah di Istanbul, Turki. Masjid ini banyak dikenal dengan nama Masjid Biru karena dominasi ubin biru disekitar dinding desain interiornya. Selain tempat beribadah, masjid ini juga terdiri dari makam pendiri, sebuah madrasah dan rumah sakit.

Struktur dasar dari masjid ini hampir berbentuk kubus, berukuran 53 kali 51 meter. Secara garis besar, Masjid Biru memiliki 6 menara, diameter kubah 23,5 meter dan tinggi kubah 43 meter, kolom beton berdiameter 5 meter. Dekat dengan Istana Topkapi, yaitu tempat kediaman para Sultan Utsmaniyah terdahulu. Dan masjid ini juga dekat dengan pantai Bosporus, yng jika dilihat dari laut, kubah dan menara mendominasi langit kota Istanbul.

Interior masjid dihiasi 20.000 keramik dari Iznik berwarna biru, hijau, ungu, dan putih. Terdapat Ornamen bunga-bungaan dan tanaman bersulur yang sangat indah memancarkan warna biru saat tersentuh cahaya matahari yang masuk lewat jendela 260 kaca patri.

Bagian dalam masjid, terdapat pilar-pilar marmer dan lebih dari 200 jendela kaca patri dengan berbagai desain yang memancarkan cahaya dari luar dengan dibantu lampu gantung (chandelier). Dalam lampu gantung tersebut diletakkan telur burung unta untuk mencegah laba-laba membuat sarang di situ. Selain itu terdapat kaligrafi ayat-ayat Alquran yang sebagian besar dibuat oleh Seyyid Kasim Gubari, salah satu kaligrafer terbaik pada masa itu.

Bagian penting dalam masjid ini adalah mihrab yang terbuat dari marmer yang dipahat dengan hiasan stalaktit dan panel incritive dobel di atasnya. Tembok disekitarnya dipenuhi dengan keramik.
Pada tingkat yang lebih rendah, interior masjid dilapisi dengan lebih dari 20.000 ubin keramik bergaya İznik buatan tangan, dibuat di İznik (Nicaea kuno) di lebih dari lima puluh desain tulip yang berbeda.

Ubin pada tingkat yang lebih rendah adalah desain tradisional, sementara pada tingkat galeri, desainnya menjadi flamboyan dengan representasi bunga, buah dan cemara. Ubin itu dibuat di bawah pengawasan master Iznik.

Bagian atas interior didominasi oleh cat biru. Lebih dari 200 jendela kaca patri dengan desain yang indah dan terihat rumit memancarkan cahaya alami, ditambah dengan adanya lampu gantung. Lantai masjid ditutupi dengan karpet, yang disumbangkan umat Islam dan diganti secara teratur.

Pada dindingnya terdapat tulisan nama khalifah dan ayat-ayat Alquran. Mereka awalnya oleh kaligrafi raksasa abad ke-17 Seyyid Kasim Gubari dari Diyarbakır namun telah berulang kali dipulihkan.

Di bagian depan halaman depan yang luas dibangun dengan cara yang sama seperti façade Masjid Süleymaniye, kecuali penambahan menara di kubah pojok terdapat tempat wudhu. Terdapat air mancur heksagonal yang berada tengah halaman. Pintu gerbang yang monumental tapi sempit ke halaman.

Semi kubahnya memiliki struktur stalaktit yang halus, kubah berusuk kecil di atas sebuah tholobate tinggi. Sekolah dasar (Sıbyan Mektebi) digunakan sebagai "Pusat Informasi Masjid" yang bersebelahan dengan dinding luarnya di sisi Hagia Sophia. Di sinilah mereka memberi pengunjung informasi terkait Masjid Biru dan Islam pada umumnya.

Sebuah rantai besi berat tergantung di bagian atas pintu masuk masjid di sisi barat. Hanya sultan yang diizinkan memasuki istana masjid dengan menunggang kuda. Rantai itu diletakkan di sana, sehingga sultan harus menundukkan kepala setiap saat dia masuk ke pengadilan untuk menghindari pukulan. Ini adalah isyarat simbolis, untuk menjamin kerendahan hati penguasa di hadapan yang ilahi.

Masjid Sultan Ahmed adalah satu dari tiga masjid di Turki yang memiliki enam menara. Empat menara berdiri di sudut-sudut Masjid Biru. Masing-masing menara bergambar pensil ini memiliki tiga balkon (Called Şerefe) dengan corb stalaktit, sementara dua lainnya di ujung halaman depan hanya memiliki dua balkon. Terdapat tangga spiral yang yang harus dinaiki maudzzin atau pemanggil doa untuk mengumumkan seruan untuk shalat.