Jumat , 13 Oktober 2017, 19:00 WIB

Sejarah Enam Menara Masjid Biru

Rep: mgrol98/berbagai sumber/ Red: Agung Sasongko
 Seorang warga mengabadikan masjid Sultan Ahmed atau yang lebih dikenal dengan masjid Biru di Istanbul, Turki, Rabu (17/6).  (AP/Emrah Gurel)
Seorang warga mengabadikan masjid Sultan Ahmed atau yang lebih dikenal dengan masjid Biru di Istanbul, Turki, Rabu (17/6). (AP/Emrah Gurel)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masjid Sultan Ahmed atau Masjid Biru dibangun atas perintah Sultan Ahmed I tepatnya di bulan Agustus 1609. Masjid Biru terletak di kawasan tertua yang bersejarah yaitu Istanbul.

Berada di dekat situs kuno Hippodrome, dan berdekatan juga dengan apa yang dulunya bernama Gereja Kristen Kebijaksanaan Suci (Hagia Sophia) yang sekarang diubah fungsinya menjadi museum.

Sultan Ahmed I menunjuk arsitek kerajaannya yaitu Sedefhar Mehmet Aga, seorang murid dan asisten senior arsitek terkenal Mimar Sinan untuk bertanggung jawab atas pembangunan Masjid Baru. Semua hasil pekerjaan termasuk desain digambarkan dengan cermat dalam delapan jilid, yang sekarang ditemukan di perpustakaan Istana Topkapı. Upacara pembukaan masjid diadakan pada tahun 1617.

Setelah terjadinya Perdamaian Zsitvatorok (1606) dan perang Persia, Sultan Ahmed I memutuskan untuk membangun sebuah masjid besar di Istanbul. Masjid ini akan dijadikan masjid kekaisaran besar pertama yang dibangun di lebih dari empat puluh tahun.

Awalnya masjid ini telah dibayar oleh para pendahulu dengan barang hasil rampasan perang mereka. Sultan Ahmed I harus menggunakan dana dari uang negara. Masjid tersebut dibangun di lokasi istana kaisar Bizantium, menghadap Hagia Sophia (pada waktu itu masjid ini paling dihormati di Istanbul) dan hippodrome, sebuah situs dengan makna simbolis yang besar.

Pembangunan masjid ini memerlukan waktu 7 tahun dan selesai pada tahun 1616. Selang 1 tahun Sultan Ahmed I wafat saat berumur 27 tahun. Sultan Ahmed I dimakamkan di halaman masjid ini, begitu juga istri dan ketiga puteranya.

Menurut salah satu sumber, Sultan Ahmed I awalnya menginginkan untuk dibuat menara yang terbuat dari emas, atau dalam bahasa Turki ‘Altin’. Tapi sang arsitek salah memahaminya dengan ‘Alti’, yg dalam bahasa Turki berarti 6.

Yang kemudian sang arsitek membangun masjid dengan 6 menara. Tetapi walaupun begitu, Sultan Ahmed tidak merasa kecewa. Sultan Ahmed tetap menyukai masjid tersebut dengan 6 menara yang menghiasinya. Dan Masjid Biru tersebut menjadi yang pertama masjid dengan 6 menara.