Jumat , 13 Oktober 2017, 16:00 WIB

12 Negara Hadiri Halaqah Ulama ASEAN 2017

Red: Agus Yulianto
dok. kemenag.go.id
Kabalitbangdiklat Abdurrahman Masud (kedua dari kiri) saat jumpa pers pelaksanaan Halaqah Ulama ASEAN 2017 di Jakarta.
Kabalitbangdiklat Abdurrahman Masud (kedua dari kiri) saat jumpa pers pelaksanaan Halaqah Ulama ASEAN 2017 di Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Agama kembali menggelar Halaqah (Sarasehan) Ulama ASEAN. Pelaksanaan halaqah tahun ini merupakan yang ketujuh sejak tahun 2010 yang dilakukan Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat. Halaqah tersebut akan dihadiri oleh utusan dari 12 negara, 11 negara ASEAN dan Cina.

Kepala Badan Litbang dan Diklat Abdurrahman Masud mengatakan, halaqah tahun 2017 yang akan diselenggarakan tanggal 17-19 Oktober 2017 di Jakarta mendatang merupakan tindaklanjut dari halaqah tahun 2016  yang saat itu mengetengahkan tema "Mengembangkan Islam Moderat Melalui Jaringan Pesantren ASEAN" .

Halaqah Ulama ASEAN 2016 yang dibuka Wakil Presiden Jusuf Kalla menghasilkan sejumlah rekomendasi. Pertama, menyosialisasikan Islam Wasathuyah (moderasi) untuk merealisasikan Islam Rahmatal lil 'alamin. Kedua, membuat program bersama guna meningkatkan kemandirian lembaga pendidikan Islam di bidang ekonomi dan sosial budaya. Ketiga, memperkuat daya saing lembaga pendidikan islam untuk menghasilkan SDM yang bermutu.

"Halaqah Ulama ASEAN Tahun 2017 akan diarahkan kepada 3 hal. Pertama, pengembangan Islam moderat melalui jaringan pendidikan Islam ASEAN. Kedua, penguatan daya saing lembaga pendidikan Islam di ASEAN. Ketiga, membuat model lembaga pendidikan Islam yang kompetitif, mampu merespons tantangan dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)," ujar Abdurrahman Masud di Jakarta, Jumat (13/10).

Menurut Masud, halaqah tahun ini lebih istimewa karena didahului oleh penelitian tentang pesantren dan lembaga pendidikan yang memiliki kemandirian di bidang ekonomi, baik di Indonesia maupun di negara-negara ASEAN.

"Ternyata beberapa pesantren di Indonesia mampu mandiri dalam membiayai ekonomi dan mendorong jiwa wiraswasta kepada para santrinya. Di negara ASEAN lainnya, lembaga pendidikan Islam berjalan lewat usaha sendiri, terutama di negara-negara yang muslimnya minoritas, seperti Kamboja dan Philipina," kata Masud.

Dikatakan Masud, tahun ini tema yang diangkat adalah Memperkuat Daya Saing Lembaga Pendidikan Islam AEAN. Menurutnya, pertimbangan tema ini penting dan perlu diangkat karena peran sentral pendidikan. "Pendikan itu segala-galanya, (proses dan hasil) pendidikan itu memang lambat, tapi ia adalah kekuatan yang dasyat,” ujarnya.

Menurut Masud, halaqah akan diikuti oleh 12 negara, 10 negara ASEAN dan dua dari Cina dan Timor Leste. "Kita bisa belajar masing-masing negara itu, karena tidak mungkin kita berdiri sendiri maka butuh pengalaman dari pembicara dari negara lainnya," ucapnya.

Sejumlah pembicara akan hadir,  Prof DrYunahar Ilyas (Wakil Ketua Umum MUI), Dra Nurhayati Subakat, Apt (CEO PT Paragon Technologi Innovation), Prof Dr Esmael Ebrahim (Direktur PCID Philipina). Ketiga narasumber tersebut akan berbicara tentang Daya Saing Ekonomi & Lembaga Pendidikan Islam di ASEAN Prof Ronald Lukens Bull (University of North Florida, USA), Prof Abdurrahman Mas’ud, PhD (Kabalitbang dan Diklat Kementerian Agama), dan Dato’ Prof Dr Siddiq Fadzil (Presiden Kolej Dar Hikmah dan Pengurus Institut Darul Ehsan Selangor Malaysia) akan berbicara dengan topik Pendidikan Islam ASEAN dan Daya Saing Sumber Daya Manusia.

Sementara topik Lembaga Pendidikan Islam di Asean: Wacana  Moderatisme dan Usaha Mengembangkan Pendidikan Berdaya Saing  akan disampaikan oleh Prof Dr Azyumardi Azra (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Dr Khaerudin al-Juned (NUS Singapura), dan KH Maman Imanul Haq (Komisi VIII DPR RI).

Sumber : kemenag.go.id