Kamis , 12 October 2017, 18:30 WIB

Menasihati Diri

Red: Agung Sasongko
Blogspot.com
Memberi nasihat merupakan anjuran agama (ilustrasi).
Memberi nasihat merupakan anjuran agama (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ruh muhasabah itu pula yang menggerakkan Umar bin Khattab RA memukul kedua tapak kakinya dengan cemeti jika malam telah gelap dan ia berkata pada dirinya, "Apa yang kamu perbuat hari ini?"

Menghisap amal seperti halnya sebuah perniagaan. Ia akan menghitung apakah semua amanya telah mendatangkan keuntungan? jika iya maka ia bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat kekuatan menjalankan perintah Allah.

Jika ia menderita kerugian, maka ia menuntutnya dengan menanggungnya dan menugaskan dirinya untuk mengambil kembali keuntungan di masa mendatang. Imam Ghazali dengan perumpamaan yang indah menerangkan muhasabah seperti perniagaan. Modal seorang hamba adalah amalan fardhu. Sementara keuntungannya adalah amalan sunah dan kerugiannya adalah perbuatan maksiat.

Maka langkah untuk menghisab diri adalah memeriksa amalan fardhunya. Jika ia menunaikannya sesuai aturan maka ia bersyukur kepada Allah dan menginginkannya senantiasanya istiqamah. Karena ia mendapatkan modaknya terus bertambah.

Jika ia luput dari yang wajib maka ia mengqadhanya. Jika ia menunaikannya dengan kurang sempurna maka ia menambal dengan amalan-amalan sunah. Lalu jika justru ia menunaikan perbuatan maksiat, kemudian ia menyibukkan diri dengan tobat dan kafarat. Kadang ia seperti menghukum diri agar ia bisa kembali mendapatkan apa-apa yang telah hilang darinya.

Umar bin Khattab RA pernah menyiksa dirinya ketika kehilangan suatu shalat jamaah dengan menyedekahkan tanah yang menjadi miliknya seharga dua ribu dirham.

Kebiasaan itu juga dilakukan oleh anaknya, Ibnu Umar bin Khattab RA. Jika ia terlewat sebuah kewajiban pada siangnya maka ia mengisi malamnya penuh dengan ibadah. Ibnu Umar pernah suatu masa tertinggal shalat wajib kemudian sebagai usaha untuk menghukum diri, ia membebaskan dua orang budak.

Musuh seseorang dalam beramal sejatinya adalah diri sendiri. Hawa nafsu yang muncul diantara dua lambung yang diciptakan untuk menjalankan keburukan, cenderung kepada kejahatan dan lari dari kebaikan. Kita diminta untuk menyucikannya, meluruskannya kala melenceng dan menggiringnya dengan rantai-rantai paksaan dengan ibadah kepada Allah SWT.

Imam Ghazali menasihati agar diri tak sibuk dengan memberikan peringatan kepada orang lain sementara lalai dalam menasihati diri. Jangan sampai kalbu kita disifati sebagai kalbu yang lalai. Allah SWT berfirman, "Kepada mereka suatu ayat Alquran pun yang baru diturunkan dari Rabb mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main? Lagi kalbu mereka dalam keadaan lalai." (QS al-Anbiya [21]: 1-3).

Menyibukkan diri dengan memeriksa amal memastikan diri ini lebih selamat. Menyediakan waktu khusus untuk meneliti apa yang luput akan membuat kita tak kehilangan bekal. Bekal untuk kembali pulang, ke tempat sungai-sungai mengalir dengan keindahan yang tak pernah ada di dunia ini.

Disarikan dari Dialog Jumat Republika

Berita Terkait