Kamis , 12 Oktober 2017, 16:15 WIB

Pengaruh Cina di Seni Lukis Ebru

Rep: c23/ Red: Agung Sasongko
deviantart.net
 Seni lukis yang berkembang di dunia Islam ini diyakini berasal dari daratan Cina.
Seni lukis yang berkembang di dunia Islam ini diyakini berasal dari daratan Cina.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ebru, dalam bahasa Turki berarti  "awan" atau "berawan". Ia berasal dari kata "ebre", bahasa Asia Tengah kuno, yang artinya kain berurat atau kertas. Dulu, seni lukis ini biasanya digunakan untuk menghiasi sampul naskah atau bahkan kitab suci.

Seni lukis yang berkembang di dunia Islam ini diyakini berasal dari daratan Cina. Salah satu bukti tentang hal itu tampak pada suatu tulisan di zaman Dinasti Tang di Cina (618-907 M), yang menyebut tentang proses mewarnai kertas lewat air dengan lima warna.

Jalur perdagangan yang kondang disebut Jalan Sutra membuat seni lukis ini menyebar ke Iran dan Anatolia, Turki. Sejak pertengahan abad ke-15, Ebru dikenal sebagai seni lukisnya orangTurki. Sejumlah lukisan Ebru dapat ditemukan di museum Turki dan kediaman sejumlah warga Turki, khususnya di Anatolia.

Pada akhir abad ke-16, sejumlah pedagang, diplomat, dan wisatawan yang datang ke Anatolia membawa seni ini ke Eropa. Orang-orang Eropa kemudian menyebutnya sebagai kertas Turki atau kertas marmer buatan Turki.

Pada abad berikutnya, seni lukis ini telah dikenal secara luas di Italia, Jerman, Prancis, dan Inggris. Banyak karya lukis Ebru yang ditampilkan di buku album sejumlah museum. Ada pula buku di Eropa yang membahas secara mendalam seni ebru, yakni Discourse on Decorating Paper in the Turkish Manner. Buku ini diterbitkan di Roma pada 1664 oleh Anthanasius Kircher (1602-1680).

Ebru ternyata bukan seni yang statis. Dari waktu ke waktu, seni lukis ini mengalami perkembangan, hingga muncullah beragam jenis ebru, seperti gelgit, tarakli, hatip, ulbul yuvasi, dan cicekli.

Perkembangan ebru juga didukung oleh perhatian yang besar dari Kesultanan Turki Utsmani. Pemerintahan Islam ini berusaha mengekspresikan keindahan Ilahi kepada hampir semua cabang seni. Mereka berusaha menampilkan keindahan ke dalam arsitekur, musik, dan seni hias.

Sepanjang abad ke-14-19, banyak sekolah agama di Turki yang mengenalkan seni ebru melalui seminar. Sekolah-sekolah itu pun mendatangkan seniman ebru untuk mengajarkan metode pembuatannya kepada para siswa.

Sejatinya, belum diketahui secara pasti kapan orang mulai melukis dengan teknik ebru. Meski dapat ditemukan kertas berlukis ebru di sampul-sampul buku tua, hal itu tidak dapat digunakan untuk memastikan tanggal pembuatan lukisan itu. Hanya lukisan ebru yang menampilkan tanggal pembuatan yang dapat digunakan untuk mengetahui usia lukisan itu.

Salah satunya, lukisan ebru yang terdapat dalam sebuah buku tua yang tersimpan di museum Istana Topkapi, Istanbul, Turki. Dalam buku bertahun 1953 itu terdapat tiga lukisan ebru berwarna pucat yang bertanggal 1004 H (1585 M).