Kamis , 12 October 2017, 04:30 WIB
Mulanya Bacaan Hijaiyah dan Alquran itu Sebagai Lelucon

Anak-Anak yang Asing dengan Alquran di Kampung Situ Patahuna

Rep: Muhammad Fauzi Ridwan/ Red: Agus Yulianto
Republika/ Wihdan Hidayat
Anak-anak sejak dini diajari belajar membaca Alquran menggunakan Iqra (Ilustrasi)
Anak-anak sejak dini diajari belajar membaca Alquran menggunakan Iqra (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Di Kampung Situ Patahunan, RT 03 RW 05, Desa Baleendah, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, telinga anak-anak berusia lima tahun hingga usia Sekolah Menengah Pertama (SMP), lebih akrab dengan lagu-lagu dangdut. Nama-nama penyanyi seperti Ayu Ting Ting dan Zaskia Gotik sudah tidak asing lagi bagi mereka.

Bahkan, setiap diselenggarakan pertunjukan panggung musik di lingkungan tersebut, anak-anak begitu antusias dan fasih ikut menyanyikan lagu-lagu dangdut bersama biduan yang bernyanyi. Tidak hanya itu, di sebagian rumah warga, orang-orang tidak segan dan malu menenggak minuman keras (miras).

Di salah satu rumah warga di kawasan pemukiman RT 03, terdapat sebuah kafe yang biasa digunakan oleh warga sekitar dan luar untuk bernyanyi dan minum-minuman keras. Tempat tersebut dikenal hingga daerah Kabupaten Cianjur. Lokasinya tidak jauh dari tempat anak-anak biasa bermain.

Warga setempat bahkan ada yang menjadi pemandu lagu di kafe tersebut. Kampung Situ Patahunan berada di atas bukit yang tidak jauh dari tugu Juang Proklamasi di Baleendah. Suasana gersang seketika terasa ketika berkunjung ke kawasan itu.

Lingkungan seperti itu yang dianggap tidak ramah bagi anak sudah berlangsung sejak tahunan. Kondisi tersebut membuat pasangan suami istri, Ai Komalasari (44 tahun) dengan Ubud WR (46) tergerak untuk mengajak anak-anak belajar mengaji di rumah miliknya yang kini sebagiannya dijadikan Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT), Muhammad Al Fatih.

Saat pertamakali memulai belajar mengaji kepada anak-anak sekitar 2015, alangkah terperangah keduanya. Betapa tidak, saat diajari belajar mengaji, anak-anak sama sekali tidak mengenal bacaan huruf Hijaiyah dan Alquran. Mereka justru dengan santai menjadikan bacaan tersebut sebagai lelucon dan bahan gurauan.

"Saat kita mengajar mengaji kepada anak-anak. Mereka asing dengan ayat-ayat Alquran bahkan menertawakan dan dijadikan bahan candaan," ujar Ubud saat Republika.co.id mengunjungi kediamannya di Kampung Situ Patahunan, Baleendah, Rabu (11/10).

Ia menduga, hal itu terjadi kepada anak-anak karena mereka berada di lingkungan yang tidak jauh dari kafe. Selain itu, latar belakang orang tua yang kurang memmerhatikan anak dalam hal belajar agama membuat mereka asing dengan ayat-ayat Alquran.

Menurutnya, dengan keadaan seperti itu ia khawatir akidah anak-anak ke depan akan rawan digoyahkan. Sebab keadaan mereka sangat jauh dari Alquran. Bahkan, dulu sebelum madrasah diniyah Taklimiyah miliknya berdiri, botol-botol miras dengan mudah bisa dilihat di sebagian rumah.

Bahkan, dia menuturkan, mendapat cerita dari Ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT), Yana yang akrab disapa Ustad Persib karena sering berdakwah dengan pendekatan mengobrol soal persib. Dia mengaku, pernah adzan dan kemudian ditertawakan oleh sebagian penduduk setempat.

"Kalau ada panggung pasti joged dan nyanyi. Mereka semangat. Tapi kalau dikasih hapalan mah pada ngajarentul (diam)," ungkapnya. Kata lelaki tamatan SMA di Leleus Garut ini menuturkan, bersama-sama Yayasan Tenda Visi Indonesia ia memulai mengajar anak-anak di kampung.

Ubud mengatakan, sejak memulai belajar mengaji jumlah anak-anak yang datang berjumlah 30 orang dengan kondisi yang masih sulit diatur. Saat ini, katanya, jumlahnya sudah mencapai 100 orang lebih dengan kemampuan membaca ayat-ayat Alquran dan hapalan yang lebih baik lagi.

"Tantangannya, saat itu, bukan dari warga yang menolak atau dari kafe, tapi dari beberapa madrasah yang ada tidak jauh dari kampung tersebut. Tapi, mungkin harus begitu diuji bukan oleh lawan tapi kawan," katanya.

Dirinya yang baru dua tahun tinggal di kampung itu mengaku, saat pertama kali mengajar anak-anak di RT 03 relatif susah dikendalikan dan dikondisikan. Bahkan, beberapa madrasah di sekitar wilayah tersebut hanya mampu mengajar mengaji anak-anak tersebut selama dua minggu saja.

"Setelah di sini ada madrasah, hampir nggak ada lagi (botol botol miras dan yang mabuk) dan tidak terlalu terbuka," ungkapnya. Ayah dua anak ini mengaku, tidak ingin terkesan menggurui kepada warga sekitar yang tengah minum miras. Namun, ia lebih memilih ingin menyelamatkan generasi muda yaitu anak-anak.

Katanya yang bekerja tidak tetap ini, rumah yang didiaminya sekarang ini dulu sering dipakai karaoke dan judi togel oleh pemilik rumah yang dulu. Bahkan, saking menganggunya tetangga yang berada berhadapan mengaku ingin menjual rumahnya karena sudah tidak nyaman dengan kelakuan tersebut.

"Sekarang mah tetangga juga tidak jadi menjual rumahnya karena situasinya berbeda setelah saya menempati rumah ini. Sekarang mah rada beda," ungkapnya.

Ubud mengaku, dulu beberapa kali Front Pembela Islam sempat menggeruduk kafe tersebut, namun mereka yang menikmati hiburan di sana kabur ke rumah-rumah warga. Dari sana, FPI tidak bisa berbuat lebih banyak.

Sementara itu, Ai Komalasari yang merupakan lulusan Muallimin Bentar, Garut menuturkan, awal mula madrasah berdiri karena banyak anak-anak yang ingin berkumpul dan belajar. Saat itu, dia sempat membuat jadwal belajar mengaji, namun ternyata hal itu tidak berdampak baik. "Sebab anak-anak jadi banyak yang tidak datang," ujarnya.

Sehingga, saat itu, waktu belajar disesuaikan dengan keinginan anak-anak. "Pas lagi cuci piring terus ada anak yang ingin belajar mengaji. Saya langsung berhenti nyuci dan ngajar dulu," ungkapnya.

Dia mengatakan, madrasah Diniyah Taklimiyah kini sudah memiliki kurikulum dengan materi belajar mengaji untuk anak kelas satu hingga enam SD. "Anak-anak disini suka berkelahi, berbahasa kasar. Nyingsieunan mereka mah sama boeh dan astana baru mereka diam," katanya.
Perempuan berusia 44 tahun ini mengatakan rumah miliknya itu berada tidak jauh dari kuburan umum. Kadangkala untuk menarik minat anak-anak biasa dirinya mengadakan makan bersama di madrasah.

Saat ini, ia mengatakan orang tua anak-anak sudah mulai terbuka dan mendorong anak-anaknya belajar mengaji di Madrasah. "Sekarang mah (anak-anak) udah paham dan mengerti ke mesjid," ungkapnya.

Dirinya menuturkan, saat ini belajar mengaji di madrasah dilakukan lima hari dengan jadwal waktu pagi untuk tingkat TK, siang sekitar pukul 12.30 WIB untuk kelas satu, kelas tiga pukul 14.00 WIB hingga Ashar. Kemudian pukul 16.00 WIB  hingga 17.00 WIB untuk kelas empat hingga enam.

"Setelah magrib ada lagi kelas khusus menghapal doa-doa untuk semua anak-anak," katanya. Ia berharap, di lingkungan tersebut tidak lagi berisik dengan orang yang menyanyi namun ramai dengan orang yang membaca Alquran. Pengajar di madrasah itu sendiri adalah dirinya, suaminya, anaknya Nadia (17) dan tetangga yang bersukarela, Imas (40).

"Kami melakukan ini ingin mengubah tatanan kehidupan di lingkungan. Sanes abdi sok suci, tapi setidaknya enak dipandang mata. Terutama anak saya tinggal di sini dan khawatir terbawa (tidak baik)," ungkapnya.

Ubud mengatakan, selama proses belajar mengaji kepada anak-anak, seluruh kebutuhan operasional dan perlengkapan alat tulis banyak di fasilitasi oleh Yayasan Visi Tenda Indonesia. Sementara dana operasional pengajar sendiri tidak ada dan banyak disuport oleh yayasan.

Saat ini kondisi madrasah yang berdiri pada lahan empat tumbak relatif sudah tidak layak, salah satu ruangan tidak bisa dipakai akibat sudah banyak retakan dan dikhawatirkan roboh. Sementara itu, buku-buku pelajaran agama pun sangat terbatas. Madrasah yang berdiri masih merupakan rumah panggung. Selain itu, jika hujan tiba maka belajar mengaji dihentikan sebab kondisi atap madrasah yang banyak bocor.

Yang membuat bangga dirinya adalah meski dalam keadaan terbatas, salah seorang anak berhasil menjadi juara tiga dalam lomba dai cilik Festival Al-Aqsa di Gedung Sabilulungan Kabupaten Bandung. Beberapa lembaga dan instansi pun pernah berkunjung dan bersilaturahmi ke madrasah.

Terpisah, Robi yang mendampingi dari Yayasan mengaku, pihaknya melakukan kerja sama dengan pasangan suami istri tersebut sudah sejak lama. Namun untuk program madrasah sendiri baru 2015 lalu. Pihaknya yang sebagian besar anggotanya adalah mahasiswa di Kabupaten Bandung terus mencari penggalangan dana untuk disalurkan kepada madrasah sebagai bantuan operasional.

Sementara itu pihaknya belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah meski beberapa kali pernah mengajukan dana pembangunan ke Kecamatan atas dasar dorongan pihak Kecamatan.