Rabu , 27 September 2017, 04:37 WIB

Suhaib Memilih Rasulullah

Rep: Ratna Ajeng Tedjomukti/ Red: Agung Sasongko
Hijrah, ilustrasi
Hijrah, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Suhaib bin Malik ikut dalam rombongan Rasulullah yang berhijrah ke Madinah. Orang-orang Quraisy mengetahui tentang niatnya dan menggagalkan ren cana itu. Mereka menempatkan penjaga di rumah Suhaib untuk mencegahnya meninggalkan Makkah dan membawa serta kekayaan, emas dan perak yang telah dia dapatkan melalui perda gang an.

Setelah kepergian Nabi dan Abu Bakar, Suhaib terus menunggu gilirannya untuk berangkat. Tapi, tetap tidak berhasil. Mata pengawalnya selalu waspada. Satu-satunya jalan keluar adalah menggunakan tipu muslihat. Pada suatu malam yang dingin, Suhaib berpura-pura mengalami beberapa masalah perut dan keluar berulang kali seolah menanggapi panggilan alam. Penjaga membiarkannya. Mereka pun santai dan tertidur.

Suhaib diam-diam menyelinap keluar. Dia mempersenjatai dirinya dengan panah, bersiap-siap mendaki gunung dan menuju ke arah Madinah. Ketika para penjaganya terbangun, mereka menyadari Suhaib telah pergi. Mereka pergi dengan kuda dan akhirnya menyusul Suhaib.

Melihat mereka mendekat, Suhaib memanjat sebuah bukit. Memegang busur dan panahnya dan berteriak, "Orang-orang Quraisy, demi Tuhan, bahwa aku adalah salah satu pemanah ter baik dan bidikanku tidak ada banding annya, jika kau mendekatiku, dengan setiap anak panah yang kumiliki, aku akan membunuh salah satu dari kalian. Kemudian saya akan memukul dengan pedangku," ujar Suhaib.

Juru bicara Quraish menjawab, Demi Tuhan, kami tidak akan membiarkan Anda melarikan diri dari kami hidup-hidup bersama uang Anda. Anda datang ke Makkah dengan lemah dan miskin dan sekarang Anda telah memper oleh apa yang telah Anda dapatkan."

Suhaib pun memberikan pilihan untuk mendapatkan hartanya, asalkan dia dibiarkan pergi. Orang Quraisy pun sepakat untuk melepaskannya. Suhaib menggambarkan tempat di mana dia menaruh seluruh harta di rumahnya di Makkah, kemudian mereka mengizinkan nya pergi.

Dia berangkat secepat mungkin ke Madinah untuk hidup bersama dengan Nabi dan memiliki kebebasan untuk me nyembah Tuhan dengan damai. Dalam perjalanan ke Madinah, setiap kali merasa lelah, pikiran untuk bertemu dengan Nabi menghapus kelelahan. Dia kembali bersemangat.

Ketika Suhaib sampai di Quba, di luar Madinah, Rasulullah mendekatinya dan sangat gembira, kemudian menyalami Suhaib dengan senyum berseriseri. "Transaksi Anda telah berhasil, wahai Abu Yahya, transaksi Anda telah ber hasil." Rasulullah mengulanginya tiga kali. Wajah Suhaib berseri-seri dengan kebahagiaan.

Dia kemudian berkata, "Demi Tuhan, tidak ada yang datang sebelum aku kepada Anda, Rasulullah, dan hanya Jibril yang bisa membujuk Anda untuk hal ini." Allah pun menurunkan wahyu dengan kedatangan Suhaib ke Madinah. "Dan ada jenis manusia yang membe rikan nyawanya untuk mendapatkan ridha Allah. Dan Tuhan penuh kebaikan kepada hamba-hamba-Nya." (Quran, Surah al-Baqarah [2]: 2O7).

Tidak ada arti uang, emas, dan seluruh dunia selama iman masih tetap ada. Nabi pun sangat mencintai Suhaib. Dia pun dikenal sebagai pendahulu orang Byzantium yang memeluk Islam. Selain kesalehan dan ketenangan, Suhaib dikenal berhati ringan dan memiliki selera humor yang baik. Suatu hari, sang Nabi melihat dia makan kurma.

Dia melihat bahwa mata Suhaib sakit. Nabi berkata kepadanya sambil tertawa, "Apakah Anda memakan kurma masak saat anda memiliki infeksi di satu mata." Suhaib mengatakan, apa yang salah. Ini masih bisa dimakan menggunakan mata yang lainnya.