Ahad , 24 September 2017, 21:39 WIB

Tiga Makna Hijrah yang Diajarkan Rasul

Red: Winda Destiana Putri
Dok: Rumah Amalia
Rumah Amalia mengadakan kegiatan Rumah Amalia sambut Hijriyah.
Rumah Amalia mengadakan kegiatan Rumah Amalia sambut Hijriyah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Yayasan Rumah Amalia, Muhamad Agus Syafii mengatakan, Rumah Amalia mengadakan kegiatan Rumah Amalia sambut Hijriyah. Ada tiga makna utama dari momentrum hijrah hidup menjadi lebih baik yang diajarkan Rasulullah Saw yang dapat diterapkan dalam kehidupan masa kini.

"Pertama, memaknai hijrah Rasulullah sebagai hijrah insaniyyah sebagai transformasi nilai-nilai kemanusiaan. Perubahan paradigma masyarakat Arab setelah kedatangan Islam dan pola pikir mereka menunjukkan betapa sisi-sisi kemanusiaan dijadikan materi utama dakwah Rasulullah bahwa semua manusia memiliki derajat yang sama, hanya Allah satu-satunya Zat yang memiliki perbedaan dengan manusia," kata Agus dalam siaran persnya, Ahad (24/9).

Itulah inti kalimat syahadat yang artinya tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah. Pernyataan syahadat ini secara langsung mengeliminir segala macam perbudakan dan penguasaan atas seseorang.

Inilah yang paling ditakutkan oleh para bangsawan Makkah semacam Abu Jahal pada waktu itu. Sebab misi kemanusiaan Rasul dapat merobohkan dominasi mereka atas para budak belian.

Dengan demikian, sungguh Islam telah meletakkan sebuah pondasi tata nilai kemanusiaan. Sebagaimana dengan tegas disampaikan Rasulullah dalam khutbahnya ketika haji wada. Sesungguhnya darahmu, hartamu dan kehormatanmu haram atas kamu (HR. Bukhari dan Muslim).

Kemudian kita harus memaknai momentum hijrah ini sebagai hijrah tsaqafiyyah, yaitu hijrah kebudayaan. Hijrah dari kebudayaan jahiliyyah menuju kebudayaan madaniyah.

Kebudayaan yang sarat dengan makna dan kemuliaan sebagaimana diperlihatkan oleh Rasulullah dalam tata krama keseharian. Dalam pergaulannya, beliau menghargai dan menghormati semua orang dengan cara yang sama tanpa ada perbedaan.

Bahkan lebih dari itu, terang Agus, beliau selalu bertindak sopan dan ramah kepada semua orang tidak pernah pandang bulu. Sebagaimana sabda beliau, ia diutus untuk menyempurnakan akhlak.

Inilah sejatinya fondasi kebudayaan dalam kacamata Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemuliaan. Termasuk di dalamnya adalah kebersamaan, gotong royong dan kesetiakawanan. Inilah nilai-nilai yang kini mulai lenyap dari kehidupan kita digantikan dengan individualisme dan kapitalisme.

Ketiga, lanjut Agus, memaknai hijrah sebagai hijrah islamiyyah, yaitu peralihan kepasrahan kepada Allah secara total. Momentum hijrah ini harus kita maknai sebagai upaya peralihan diri menuju kepasrahan total kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Artinya setelah modernism menggiring kita kepada rasionalisme yang tinggi, hingga menyandarkan kehidupan kepada teknologi dan mengandalkan struktur sebuah sistem. Maka kini saatnya kita berbalik kepada Allah Yang Maha Pencipta. Sadarlah bahwasannya berbagai pertunjukan modernisme semata merupakan hasil kreatifitas manusia belaka.

"Oleh karenanya, marilah di awal tahun baru ini kita memulai hidup baru dengan paradigma yang baru sesuai dengan makna hijrah hidup menjadi lebih baik," ujarnya.

TAG

Berita Terkait