Tuesday, 8 Sya'ban 1439 / 24 April 2018

Tuesday, 8 Sya'ban 1439 / 24 April 2018

Seru, Ada Parade Mainan Tradisional di Tahun Baru Islam

Kamis 21 September 2017 22:07 WIB

Red: Agung Sasongko

 Sejumlah pelajar memainkan permainan tradisional

Sejumlah pelajar memainkan permainan tradisional"Rorodaan" di Lapangan Persebta,Cikarang Barat,Bekasi,Jawa Barat,Rabu (30/11).

Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Masyarakat Kelurahan Loloan Timur, Kabupaten Jembrana, Bali, merayakan tahun baru Islam 1439 Hijriyah dengan menggelar parade mainan tradisional.

Ratusan mainan tradisional berupa cikar (sejenis gerobak) berukuran mini, ikut pawai bersama kesenian hadrah dan drum band penerangan obor, pada malam Satu Muharam, Rabu Kemarin.

"Mainan cikar berbahan kayu dan bambu ini dulu populer di kalangan anak-anak dan remaja, namun saat ini sudah punah. Dengan parade mainan ini, kami berharap bisa menumbuhkan kembali minat terhadap mainan tersebut," kata Kepala Dusun Loloan Timur Muztahidin.

Ketua Panitia Penyelenggara Irwan Hidayat mengatakan, pada perayaan tahun baru Islam sebelumnya, pihaknya juga menggelar acara sejenis, namun jumlahnya tidak sebanyak tahun ini.

Menurutnya, tidak kurang dari 400 mainan cikar diikutkan dalam acara ini, baik membuat sendiri maupun membeli ke perajin. 

"Mudah-mudahan masyarakat khususnya remaja dan anak-anak, tidak hanya saat kegiatan seperti ini saja menyukai mainan cikar. Dibandingkan mainan modern, mainan cikar mini ini tidak kalah seru, dan yang terpenting ramah lingkungan, mudah dibuat, memiliki cita rasa seni dan murah," katanya.

Haji Musadat Johar, salah seorang tokoh Loloan Timur mengatakan, dirinya masih ingat dulu mainan ini sangat digemari anak-anak, termasuk dirinya. Pada jamannya, menurutnya, cikar mini dibuat sangat sederhana berbahan bambu dan pelepah kelapa.

"Sangat saya sayangkan anak-anak zaman sekarang tidak mengenal lagi mainan tersebut. Dengan dimunculkan kembali saat perayaan malam Satu Muharam ini, saya harap mainan ini kembli digemari," katanya.

Sepanjang yang ia ingat, mainan tradisional ini sudah mulai jarang terlihat sejak tahun 1980 an, dan lama-kelamaan sama sekali tidak ada. Adanya pawai mainan tradisional ini membuat Mustain, salah seorang warga yang memiliki ketrampilan membuat cikar mini banjir pesanan.

Ia mengatakan, dalam satu minggu dirinya menerima 100 pesanan cikar mini dengan berbagai bentuk dan ukuran. Menurutnya, bahan membuat mainan ini sangat mudah diperoleh, yaitu bambu serta beberapa bahan bekas lainnya.

"Bahannya mudah didapat dan mudah membuatnya. Satu cikar saya jual antara Rp10 ribu sampai Rp15 ribu, tergantung bentuk dan ukurannya," katanya.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES