Rabu , 20 September 2017, 06:00 WIB

Terima Rabithah Al-Islamy, Menag Diskusi Soal Peran Aswaja

Red: Agus Yulianto
dok. Kemenag
Menag Lukman sedang bersama rombongan Rhabithah al-Islamy.
Menag Lukman sedang bersama rombongan Rhabithah al-Islamy.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menerima rombongan pengurus, penasehat, dan sekjen Rhabithah Al-Islamy di Kantor Kementerian Agama. Kesempatan itu digunakan untuk mendiskusikan peran Ahlus Sunah wal Jamaah (Aswaja) ke depan.

Menurut Lukman, tantangan umat Islam ke depan tidak sederhana. Dalam konteks ini, Aswaja dapat menjadi acuan, tidak hanya dalam rangka menjaga persatuan internal umat muslim, namun juga menjaga hubungan eksternal, sehingga kedamaian dunia dapat terjaga.

“Tantangan ke depan memang tidak sederahan. Ahlussunnah wal jamaah menjadi acuan dan memberi kontribusi kepada peradaban dunia, dan menjaga di internal umat sendiri sehingga kedamaian terjaga,” kata Lukman didampingi Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran Muchlis M Hanafi, kemarin.

Lukman mengatakan, Muslim Indonesia selama ini terus berusaha memelihara persaudaraan dan menjaga kerukunan. Muslim Indonesia dapat memberi contoh kepada dunia luar tentang ajaran Islam rahmatan lil alamin yang bisa memberikan kontribusi positif bagi dunia.

Sebelumnya, Sekjen Rhabithah al-Islamy Prof Dr. Ja’far Abdul Salam menyampaikan, bahwa kedatangan rombongan ke Indonesia selain silaturahim, juga bersamaan dengan agenda Seminar Internasional yang diadakan di kampus UIN Syarif Hidayatullah sejak hari ini sampai besok.

Menurut Ja’far Abdul Salam, kerja sama Indonesia dengan Rhabithah Al-Islamy sudah lama terjalin, sejak Mantan Menteri Agama Tarmizi Taher. Bagi Rhabithah Al-Islamy, Indonesia adalah negara yang sangat penting dan bersejarah. Sebagai negara yang mayoritas berpaham ahlussunnah wal jamaah, Ja’far berharap Indonesia tidak sampai disusupi ajaran di luar aswaja.

“Terima kasih atas sambutan bapak Menteri Agama, kami rombongan Rhabithah sudah sering ke Indonesia dan bahkan mengadakan kegiatan di UIN Syarif Hidayatullah. Indonesia memiliki kedudukan yang begitu terhormat. Kerja sama Indonesia dan Rhabithah bisa berjalan dengan baik,” kata Ja’far Abdul Salam.

Menaggapi hal tersebut, Menag menyampaikan, bahwa seminar yang dilakukan di UIN Syarif Hidayatullah sangat tepat, karena sejak beberapa tahun belakangan ini, Kementerian Agama sedang mengembangkan ajaran-ajaran islam yang rahmatan lil alamin pada universitas-universitas di Indonesia. “Kemenag saat ini membawahi 56 PTKI Negeri, sementara PTKI swasta bisa mencapai 600-an. Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di Indonesia tidak hanya memelihara ajaran Islam yang baik, namun mengembangkannya di masa mendatang,” tegas Menag.

Menag yakin, Rhabhithah al-Islamy dengan berbagai pengalamannya akan dapat memberikan hal positif bagi negara-negara di dunia, khususnya negara Islam, agar dunia semakin baik.

Tampak hadir juga dalam pertemuan tersebut Penasehat/Mantan Sekjen Rhabihah Al-Islamy Prof Dr Abdullah at-Turki, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Dede Rosyada, Sesmen Khairul Huda Basyir.

Sumber : kemenag.go.id