Kamis , 14 September 2017, 17:43 WIB

Masjid Agung Djenne Bukti Kehebatan Arsitek Muslim

Rep: Ali Yusuf/ Red: Agung Sasongko
sacredsites.com
 Masjid Agung Djenne di Mali, Afrika Barat.
Masjid Agung Djenne di Mali, Afrika Barat.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Djenne, kota kecil di Mali, Afrika Barat, ini merupakan salah satu daerah peradaban Islam pertama di Afrika Barat. Kota yang sudah diresmikan UNESCO sebagai warisan dunia ini pada 1988 ini memiliki masjid unik karena seluruh bahan bangunannya terbuat dari tanah cair (lumpur). Masjid itu diberi nama Masjid Agung Djenne yang berada di wilyah Farmantala, kota tua Djenne, Mopti, Republik Mali.

Masjid yang dibangun pertama kali pada 1240 M oleh penguasa Djene, Sultan Koii Kunboro, ini awalnya adalah sebuah istana. Setelah ia memeluk Islam, masjid tersebut dialihfungsikan menjadi masjid. Untuk ukuran Afrika ketika itu, bangunan tersebut pun sudah sangat mewah. Kesan tersebut seperti yang disampaikan oleh penguasa Djene, Syekh Amadou, pada awal abad ke-19.

Di tangan Syekh Amadou pulalah, masjid yang 99 persen terbuat dari tanah liat ini mengalami beberapa kali renovasi, seperti renovasi pada 1830 M lantaran bangunan pertama sudah lapun dan runtuh. Sedangkan, bangunan ketiga dilakukan oleh para saudagar setempat pada 1906. 

Mengangkat gaya arsitektur ala Sudan Sahili, bangunan ini benar-benar merefleksikan kearifan lokal masyarakat Afrika Barat. Kehebatan sang arsitek Muslim, Ismaila Traore, mampu menyulap lumpur-lumpur tersebut menjadi bangunan berseni tinggi. Ia menggunakan bahan-bahan tradisional, seperti batang dan cabang pohon yang diaduk bersamaan bata lumpur kering dan juga tanah liat.

Sebelum digunakan sebagai perekat material bangunan, lumpur diolah sedemikian rupa dengan cara yang tradisional, hanya mengandalkan terik matahari. Meski hanya memadukan lumpur dan sinar mentari, kombinasi tersebut menghasilkan kekuatan seperti halnya sebuah semen.

Dinding Masjid yang dibangun di atas tanah seluas 5.625 meter persegi ini terbuat dari bata lumpur yang dijemur di bawah matahari (disebut ferey) sedangkan bagian luarnya diplester dengan lumpur yang lembut.

Sedangkan, mihrabnya dimahkotai dengan tiga menara yang tinggi 11 meter dan menonjol di atas dinding utama. Setiap menara berisi tangga spiral yang mengarah ke atap dan di atas puncak menara berbentuk kerucut telur burung unta terletak yang dianggap sebagai simbol kemurnian dan kesuburan.

Di dalam, masjid memiliki beberapa ruang besar dan banyak koridor, dipisahkan oleh kolom. Satu setengah dari masjid adalah ruang doa terbuka yang lainnya ditutupi dengan atap. Atapnya didukung oleh 90 pilar kayu.

Ruang yang paling besar di Masjid Agung Djanne yang mampu menampung 3.000 jamaah meski tidak memiliki lantai yang berubin. Untuk memasuk ruang tersebut, para pengunjung bisa berjalan langsung di tanah kosong. Halaman di tiga sisi yang dikelilingi oleh galeri dengan bukaan melengkung. Di sisi barat ruang doa bagi pengunjung perempuan sudah tersedia.