Kamis , 14 September 2017, 16:33 WIB

Keinginan Bertobat

Red: Agung Sasongko
Blogspot.com
Tobat (ilustrasi).
Tobat (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Al-insanu mahal al-khatha' wa an-nisyan. Manusia itu tempatnya salah dan lupa. Tidak ada yang maksum kecuali segelintir manusia pilihan yang menerima wahyu-Nya. Karena itu, tak pernah ada kata terlambat untuk pulang. Pulang ke hadapan-Nya. Luruh bersimpuh penuh harap dan cinta di kaki-Nya.

Sebesar apa pun dosa seorang hamba, ampunan Allah jauh lebih luas dan lebih besar lagi. Allah berfirman dalam surah az-Zumar ayat 53, "Katakanlah: Wahai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Namun, tobat memang bukan perkara mudah. Tobat adalah sebuah kata kerja yang membalikkan kebiasaan diri, membalikkan laku hidup, bahkan membalikkan persepsi orang tentang diri kita. Tak jarang, ada saja orang yang memandang sinis atau malah menutup pintu itu. Kita ingat satu kisah riwayat Imam Bukhari-Muslim yang disampaikan Sa'ad bin Malik al-Khudri dari Nabi Muhammad SAW.

Alkisah, tutur Rasulullah, ada seorang lelaki dari umat sebelum ini. Dia telah membunuh 99 manusia. Suatu ketika, tebersit keinginan di hatinya untuk bertobat. Lelaki itu bertanya kepada orang-orang, siapakah orang yang paling alim di dunia. Khalayak pun menyarankan dia menemui seorang pendeta yang terkenal lantaran kealimannya. Penuh harap dapat menebus dosa-dosa masa silam, lelaki itu datang. Kepada sang pendeta, ia melakukan pengaduan dosa.

Lelaki itu menuturkan semuanya dengan jujur. Sepanjang hidup, ia telah membunuh 99 orang. "Apakah masih diterima tobatku?" tanyanya pada sang pendeta. Tak disangka, pendeta menjawab, "Tidak!" Dunia pun seakan gelap bagi lelaki itu. Pendeta itu dibunuhnya hingga genaplah 100 orang yang dia bunuh.

Namun, niat pertobatan itu belum luruh. Lelaki itu kembali bertanya pada khalayak, siapa lagikah orang yang paling alim dari seluruh penduduk bumi. Ia pun ditunjuki seorang alim yang lain. Kepada orang alim ini, ia kembali mengisahkan seluruh dosa-dosanya. "Saya telah membunuh 100 orang penduduk bumi. Apakah tobatku masih diterima?"

Respons orang alim kali ini jauh berbeda dari yang pertama. Dengan senyum hangat, ia sambut lelaki pendosa tadi. "Ya, masih dapat. Pergilah kau ke negeri ini dan itu. Sebab, di situ ada kelompok manusia yang menyembah Allah SWT, maka beribadahlah kau kepada Allah bersama-sama mereka dan janganlah pulang kembali ke negerimu sebab negerimu negeri yang jelek."

Asa meluap di hati lelaki pendosa itu. Ia ikuti nasihat si orang alim dan terus pergi hingga mencapai negeri yang dimaksudkan. Baru separuh perjalanan, tiba-tiba dia meninggal dunia. Maka, para malaikat berselisih pandang. Hendak dimasukkan ke manakah lelaki ini? Surga atau neraka? Malaikat pertama berkata, "Orang ini datang untuk bertobat sambil menghadapkan hatinya kepada Allah." Malaikat kedua membantah, "Orang ini belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun."

Kemudian, datanglah seorang malaikat lain menjadi penengah di antara mereka. "Ukurlah jarak antara dua negeri itu, ke mana ia lebih dekat letaknya, maka orang ini adalah untuknya." Malaikat-malaikat pun mulai mengukur jarak masing-masing. Ternyata didapati, orang tersebut telah sejengkal lebih dekat pada bumi yang dituju. Allah pun mengampuni dosa-dosanya.

Kisah itu mengingatkan kita pada sabda Rasulullah, "Setiap anak Adam memiliki kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang bertobat."

Dari sini kita belajar, bagaimana seorang pembunuh yang telah menghabisi 99 nyawa memiliki ikhtiar kuat untuk bertobat. Jalannya memang tak mudah, tapi ia tak menyerah. Bagaimana seandainya si pendosa menyerah setelah dihukumi "tidak" oleh pendeta pertama? Malaikat tentu tak perlu bertengkar memperebutkan kedudukannya. Kita pun, sebagai sesama manusia, hendaknya menuntun, membuka jalan, atau setidaknya, tidak menutup pintu bagi orang-orang yang bertobat.

Disarikan dari Dialog Jumat Republika