Kamis , 14 September 2017, 15:00 WIB
Belajar Kitab

Pentingnya Sebuah Nasihat

Rep: Nashih Nasrullah/ Red: Agung Sasongko
Blogspot.com
Memberi nasihat merupakan anjuran agama (ilustrasi).
Memberi nasihat merupakan anjuran agama (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Abu al-Khair Badar ad-Din bin Abu al-Ma'mar bin Ismail at-Tabrizi (636 H) adalah satu dari sekian cendekiawan Muslim yang mempunyai kepedulian akan pentingnya sebuah nasihat. Ulama terkemuka itu menuliskan kitab yang berisi pesan-pesan dan wasiat yang pernah disampaikan oleh Rasulullah kepada para sahabat semasa hidupnya.

Menurut analisis at-Tabrizi, di antara sunatullah adalah menetapkan umat manusia, ada yang menjadi rakyat dan pemimpin. Fungsi pemimpin, menurut dia, mengarahkan dan menjaga rakyat agar tetap berada dalam koridor keadilan, keseimbangan, dan kesejahteraan, baik dunia maupun akhirat.

Penting bagi setiap pemimpin menjelaskan perkara haram dan halal yang menyangkut ibadah dan muamalat mereka. Tugas serupa juga diemban oleh Rasulullah dan para khalifah penggantinya.  Selain menegakkan syiar agama, para khalifah tersebut berkewajiban berbuat adil kepada seluruh elemen rakyat yang dipimpinnya.

At-Tabrizi mengingatkan, dalam mengemban amanat dan menjalankan pemerintahan, pemimpin yang mendapat kepercayaan rakyat harus mengedepankan prinsip keadilan. Sebab, berbuat adil adalah pangkal segala keutamaan. Terwujudnya keadilan dalam sebuah komunitas masyarakat akan menciptakan stabilitas nasional dan menyejahterakan kehidupan rakyat.

Dengan keadilan, keberlangsungan hidup orang banyak bisa terjaga dengan baik. Bahkan, keadilan digunakan sebagai barometer untuk mengukur sejauh mana rezim yang berkuasa bisa memperoleh dukungan dan simpati dari rakyat, juga mampu menggapai ridha dari Sang Khalik.

Karena itu, menurut at-Tabrizi, secara lugas Allah memerintahkan agar keadilan dijadikan landasan utama menetapkan hukum di antara manusia. Sebab, di sanalah letak keberhasilan seorang pemimpin untuk menyampaikan dan melaksanakan amanat yang diberikan.

Tak lain karena adil adalah menempatkan segala sesuatu sesuai porsi dan tempatnya. Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS an-Nisa [4]: 58).