Kamis , 14 September 2017, 14:45 WIB
Belajar Kitab

Agar Rakyat dan Pemimpin tidak Tergelincir

Rep: Nashih Nasrullah/ Red: Agung Sasongko
Wordpress.com
Pemimpin yang berilmu (Ilustrasi)
Pemimpin yang berilmu (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nasihat menduduki posisi dan peranan penting. Dalam surah al-Ashr (103) ayat 3 ditegaskan bahwa berwasiat kepada sesama merupakan cara agar terhindar dari golongan orang-orang yang merugi. Al-Khuthabi memastikan hampir tak ada kata yang tepat untuk mengungkapkan sebuah pesan, kritik, ataupun masukan, selain dengan nasihat.

Karenanya, apabila merujuk kepada sejumlah referensi kamus Arab, kata nasihat adalah lafal bahasa Arab yang diadopsi ke dalam bahasa Indonesia. Temuan al-Mazuri setidaknya menguatkan fakta tersebut. Menurut dia, kata nasihat berasal dari kata nashaha yang berarti bersih atau merajut dengan sebuah benang.

Kata nasihat juga tercantum dalam sebuah hadis riwayat Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daari. Hadis itu menjelaskan bahwa inti agama adalah nasihat. Menurut sebagian ulama, kedudukan hadis tentang nasihat sebagai inti agama menempati seperempat dari agama, seperti yang ditegaskan oleh Muhammad bin Aslam ath-Thusi.

Bahkan, Imam an-Nawawi menyebut hadis itu sebagai satu-satunya jalan menggapai maksud agama. Sebab, menurutnya, hakikat tujuan-tujuan agama terangkum dalam empat kategori nasihat.

Dalam hadis itu diterangkan ada beberapa kategori peruntukan nasihat. Pertama, nasihat kepada Allah, berupa taat menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Kedua, nasihat untuk kitab suci Alquran, dengan mengajarkan dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Ketiga, nasihat bagi Rasul-Nya, yakni mengikuti dan menerapkan sunah yang pernah dicontohkannya.

Keempat, nasihat bagi para pemimpin dan umat Islam secara keseluruhan. Dalam konteks nasihat bagi pemimpin dan umat Islam yang terakhir inilah, tercatat sejumlah karya berupa kitab tentang nasihat kepada pemimpin dan rakyat telah ditulis oleh para ulama.