Rabu , 13 September 2017, 09:45 WIB

Hidup di Pengungsian, Muslimah Ini Sukses Jadi Model

Red: Agus Yulianto
Republika/Agung Supriyanto
Model memperagakan busana muslim elhijab (Ilustrasi)
Model memperagakan busana muslim elhijab (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Sekitat setahun lalu, Ko-Direktur Eksekutif Miss Minnesota Amerika Serikat (AS) Dennise Wallace menerima telepon dari gadis 19 tahun, Halima Aden. Aden bertanya kepada Wallace apakah ia bisa ikut kompetisi putri kecantikan itu dengan tetap memakai hijab.

"Foto Aden muncul dan saya pikir, 'Wow, dia cantik'," kata Wallace seperti dikutip New York Post, Selasa (12/9).

Remajan keturunan Somalia-Amerika itu jadi berita utama sebagai kontestan berhijab pertama dalam kontes kecantikan di Minnesota itu. Langkah itu mengantarkan Aden pada pintu-pintu lain termasuk kontrak kerja sama dengan agen model ternama.

Hijab yang jadi tanda keislaman amat menonjol dari seorang Muslimah, kini tampak jadi arus utama di berbagai iklan, raksasa media, dan perusahaan pakaian. Bahkan, Nike mengeluarkan perlengkapan olah raga yang menyasar pada hijabi pada 2018 mendatang dan membuat Nike jadi yang pertama menyediakan produk tersebut. Aden ikut menjadi model produk ini.

Produsen pakaian American Eagle Outfitter juga memproduksi hijan denim dengan menggunakan jasa Aden sebagai model utamanya. Hijab ini ludes terjual kurang dari sepekan.

Pemimpin Redaksi Majalah Allure Michelle Lee juga tak melepaskan potensi Aden. Di halaman muka Allure edisi Juli, Aden tampil selaiknya gadis Amerika biasa.

''Dia mewakili siapa kita sebagai orang Amerika, negara yang jadi tempat bertemu segala rupa dan itu masuk akal,'' kata Lee.

Aden sendiri lahir di Kakuma, sebuah kamp pengungsian di Kenya. Ia datang ke Amerika bersama keluarganya saat berumur tujuh tahun dan tinggal di St. Louis. ''Saya memakai hijab tiap hari,'' kata Aden di sela-sela Fashion Week di New York.

Ia masih ingat masa tinggal di kamp pengungsian. Berbagai orang dari berbagai belahan Afrika bisa datang ke Kakuma. Meski begitu, mereka tetap punya rasa kesamaan di sana. Di Amerika, Aden merupakan pelajar yang cerdas dan populer di sekolah. Kini, mimpi tertingginya adalah menjadi contoh yang baik bagi remaja Muslim AS.

''Saya tidak punya alasan berpikir orang akan menentang saya. Saya hanya berusaha jujur,'' ungkap Aden.

Aden mengaku ia bersyukur bisa muncul mewakili keberagaman di industri model. Ia berharap kelak bisa kembali ke Kakuma untuk membantu anak-anak di sana.