Selasa , 12 September 2017, 23:37 WIB
Belajar Kitab

Kritik al-Ghazali terhadap Kehidupan Dunia

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Agung Sasongko
Blogspot.com
Dunia (ilustrasi)
Dunia (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Kesibukan membuat kehidupan semakin mesra dengan dunia. Pada pagi hari orang sibuk bekerja hingga sore, bahkan malam. Setelah itu mereka beristirahat. Nyaris tak ada waktu lebih untuk merelaksasi pikiran. Kalaupun ada, itu hanya diisi dengan candaan penuh tawa, yang belum tentu membawa ketenangan batin.

Kesibukan juga membuat seseorang hanya memahami cara mendekati Allah hanya dengan ritual wajib, seperti rukun Islam. Selebihnya mereka kembali tenggelam dengan kehidupan duniawi. Fisik menjadi letih. Pikiran kerap buntu karena terlalu diporsir untuk bekerja ekstra.

Jika hanya mendekati seadanya, hanya melalui ritual wajib, maka Allah tak banyak memperhatikan kita. Tak ada yang berbeda dari hamba seperti itu dengan kaum awam lainnya. Karena mereka sama-sama sekadar melaksanakan kewajiban.

Bukan tidak mungkin hamba seperti ini ditafsirkan sebagai pencinta dunia (muhibbud dunya). Status seperti itu sangat dibenci ulama tasawuf, karena mem buat hati bebal, sehingga tak dapat menerima cahaya Ilahi. Hati yang keras hanya akan membuat seseorang merasa benar sendiri, sehingga mengabaikan petuah bijak ulama yang menyampaikan hikmah Ilahiyah seperti yang pernah disampaikan para nabi dahulu.

Hujjatul Islam Imam al-Ghazali menjelaskan dunia merupakan musuh Allah dan para wali-Nya. Dunia menjadi musuh Allah karena berbagai keindahan di dalamnya menipu manusia. Hanya orang beriman yang memahami hakikat dunia, sehingga mengetahui bagaimana menyikapi kehidupan di dalamnya.

Banyak lagi kecaman tentang kehidupan dunia yang disampaikan mantan kepala madrasah Nizamiyah tersebut.

Kritikan al-Ghazali terhadap kehidupan dunia merupakan peringatan untuk kaum Muslimin ketika itu agar tidak melu pakan kehidupan akhirat. Masyara kat harus mengingat kematian dan kehidupan sesudah dunia.

Caranya dengan mendekati Allah, menyebut asma-Nya dengan berzikir, sehingga hati menjadi terbuka dan menerima Nur Ilahi. Allah berfirman, ketahuilah, berzikir menyebut Allah menenang kan hati (QS ar-Ra'du: 28).