Sabtu , 09 September 2017, 05:50 WIB

Doa 30 Ribu Santri untuk Rohingya

Red: Irwan Kelana
Dok PPPA
Para santri Daarul Qur'an mendoakan Muslim Rohingya.
Para santri Daarul Qur'an mendoakan Muslim Rohingya.

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Doa bersama digelar sebagai bentuk aksi kemanusiaan untuk umat muslim Rohingya. Sekitar 24.988 santri rumah tahfizh yang tersebar di 28 provinsi dan 5.000 santri Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an se-Nusantara memulai doa tersebut bakda Ashar di masing-masing rumah tahfizh dan pesantren, Jumat (8/9).

Direktur Eskekutif PPPA Daarul Qur’an Tarmizi As Shidiq mengatakan, gelaran ini merupakan bentuk kepedulian seluruh insan Daarul Qur’an terhadap Muslim Rohingya. Tak hanya Indonesia, santri-santri rumah tahfizh di beberapa negara seperti Gaza, Afrika Selatan dan Hongkong juga ikut mendoakan.

Begitu pula dengan seluruh keluarga besar PPPA Daarul Qur'an baik di kantor pusat maupun cabang, semuanya memanjatkan doa untuk Rohingya. “Kami ingin tunjukkan kalau mereka umat Muslim Rohingya tidak sendiri karena kami bersama mereka,” ujar Tarmizi As Shidiq.

Selain menggelar doa bersama, para santri tersebut juga akan  membaca Qunut Nazilah selama satu bulan penuh. Di Pesantren Tahfizh Daarul Qur'an, Ketapang, Tangerang, Banten, doa bersama diawali dengan khataman Qur'an. Usai acara, santri juga menyisihkan uang jajannya untuk membantu Muslim Rohingya.

“Kami juga mengajak seluruh umat Muslim di Indonesia ikut membantu dan mendoakan saudara-saudara muslim Rohingya yang sedang kesulitan di sana,” tutur Tarmizi.

Ia mengatakan, dalam waktu dekat PPPA Daarul Qur’an akan mengirim tim kemanusiaan ke Bangladesh. Sebab, kebanyakan dari Muslim Rohingya melarikan diri ke sana. Mereka tinggal di kantong-kantong pengungsian seadanya dan hidup serba kekurangan. Karenanya, bantuan logistik sangat mereka butuhkan.

Seperti diketahui bersama, jumlah pengungsi Rohingya yang memasuki Bangladesh semakin bertambah setiap harinya. Mereka berlari mencari perlindungan. Tak sedikit anak-anak pun terpaksa harus ikut berjalan jauh demi mendapatkan  rasa aman.

Bekal terbatas membuat kondisi para pengungsi semakin memprihatinkan dengan trauma berkepanjangan karena menyaksikan tragedi kemanusiaan yang semakin menjadi. “Mudah-mudahan Allah memberikan segala kemudahan bagi saudara-saudara Muslim di sana dan mengganti segala kesulitan yang mereka alami dengan balasan-balasan nikmat luar biasa, aamiin,” ujar Tarmizi.