Sabtu 19 Aug 2017 23:03 WIB

Semangat Kebangsaan dalam Kurikulum Sekolah Islam

Rep: Ahmad Islamy Jamil/ Red: Agung Sasongko
Siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu (ilustrasi).
Foto: Antara/ Wahyu Putro A
Siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,   JAKARTA -- Nilai-nilai kebangsaan masih ditanamkan di sekolah-se kolah Islam. Meski tudingan menerpa sekolah Islam turut melahirkan benih ekstremisme, kurikulum di banyak sekolah Islam justru memperlihatkan sebaliknya. Kepala Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) al-Fath Paya kumbuh Ustaz Safrizal mengatakan, SMPIT al-Fath mengajarkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air kepada para peserta didiknya. Penanaman nilainilai tersebut antara lain dilakukan lewat pengajaran materi ilmu pengetahuan sosial (IPS) dan pendidikan kewarganegaraan (PKn) setiap pekan. Di samping itu, semangat cinta tanah air juga dihi dupkan melalui program ekstrakuri kuler, seperti Pramuka.

"Siswa-siswa SMPIT al-Fath juga rutin berpartisipasi dalam kegiatan pa wai 17 Agustus yang digelar oleh Peme rintah Kota Payakumbuh setiap tahun," ujarnya. Walau bagaimanapun, kata Safrizal, paham ekstremisme dan radi kalis me yang bersifat destruktif tidak dibenarkan dalam Islam. Karena itu, kurikulum pendidikan di SMPIT al-Fath sengaja dirancang untuk menanamkan semangat toleransi —yang sejatinya memang bagian dari ajaran Islam.

Ustaz Safrizal mengakui, saat ini ada semacam pemahaman keliru yang diembuskan oleh kelompok sekuler di Indonesia. Mereka mengecap sekolahsekolah Islam sebagai institusi yang menanamkan bibit-bibit radikalisme dan ekstremisme kepada para siswa. "Yang lebih parah lagi, sekarang ini ada pula yang menyebut sekolah-sekolah Islam sebagai sarang teroris dan antipemerintah. Pandangan ini jelas-jelas menyesatkan," katanya kepada Republika, Selasa (15/8).

Ketua Dewan Pembina Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia Sukro Muhab mengatakan, ada beberapa langkah yang dilakukan organisasi nya untuk menyemaikan semangat ke bangsaan di kalangan siswa. Di antara nya adalah dengan melatih mereka untuk menginternalisasi nilai-nilai Pan casila dan UUD 1945 dalam pendidikan karakter di sekolah. "Proses internalisasi nilai-nilai Pan casila dan UUD 1945 itu bisa dilakukan lewat berbagai macam kegiatan, misalnya ekstrakurikuler, latihan kepemim pinan, dan semacamnya," ujarnya.

Bahkan, kata Sukro, materi sejarah yang diajarkan kepada siswa di sekolahsekolah Islam terpadu (SIT) pun kini lebih mengedepankan nilai-nilai yang terdapat dalam suatu peristiwa, bukan tanggal kejadiannya. Sebagai contoh, ketika mem bahas peristiwa Pertempuran Ambarawa (12-15 Desember 1945), materi yang lebih ditonjolkan kepada siswa adalah tentang kepahlawanan dan semangat juang Jenderal Soedirman dalam mempertahankan Tanah Air, bukan lagi soal kapan berlangsungnya pertempuran itu.

"Selama ini, mata pelajaran sejarah umumnya hanya menjadi kegiatan menghafal tanggal-tanggal peristiwa oleh para siswa. Sekarang mindset itu yang harus diubah. Materi sejarah se yogianya bisa digunakan untuk mena nam kan semangat cinta tanah air ke pada para peserta didik," ujar Sukro. Sukro menuturkan, saat ini JSIT juga mengadakan kerja sama dengan MPR RI untuk menyosialisasikan empat pilar kebangsaan Indonesia (Pancasila, Bhin neka Tunggal Ika, Undang-Undang Da sar 1945, dan NKRI) ke sekolah-sekolah Islam terpadu yang ada di Tanah Air. Lewat kegiatan tersebut, semua guru SIT dilibatkan secara aktif untuk mena namkan nilai-nilai nasionalisme kepada para siswa.

Tidak hanya itu, kata Sukro, JSIT sekarang sedang membentuk tim ins truktur yang nantinya akan ditugaskan untuk memberikan berbagai materi ten tang empat pilar kebangsaan Indonesia ke sekolah-sekolah. Harapannya, para anak didik yang belajar di SIT tidak hanya mampu menyerap nilai-nilai kebang saan, melainkan juga menginternalisasi dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

"Dengan begitu, SIT bukan lagi se kadar singkatan dari 'sekolah Islam terpadu', tapi juga 'serap, internalisasi, dan terapkan'. Sebab, nilai-nilai kebang saan itu tidak cuma dilihat dari kemampuan siswa dalam menjawab soal, tapi bagaimana mereka menerapkannya dalam bentuk perilaku," ujar pria yang kini juga menjabat Presidium Indonesia Beradab itu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement