Sabtu , 12 August 2017, 23:15 WIB

Sosok Pendidik yang Alim

Rep: Amri Amrullah/ Red: Agung Sasongko
Dok. Republika
Dakwah
Dakwah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rufai bin Mihran adalah mantan budak dari Bani Tamim. Beruntung, ia berada di pangkuan seorang majikan yang terkenal cerdas, teguh, dan penuh keimanan serta ketakwaan. Keputusan pembebasan dari status budak itu pun bukan tanpa alasan. Rufai sangat loyal dan taat, selalu membantu tugas-tugas sang majikan dan tak pernah berulah. Bahkan, ia mempergunakan waktu senggang untuk belajar memperdalam ilmu agama, di samping membaca dan menulis. 

Setelah mendapatkan status merdeka, Abu al-Aliyah melakukan rihlah pencarian ilmu. Ia sering pulang-pergi ke Madinah dan menempuai para sahabat untuk berguru, di antaranya kepada Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Tak hanya ke Madinah, di Bashrah, ia juga belajar hadis dari para tokoh sahabat dan tabiin di sana. Ia terkenal dengan riwayat-riwayat yang sampai pada jalur Abdullah bin Mas’ud, Abu Ayyub al-Anshari, Abu Hurairah, dan sahabat lainnya.     

Keuletan den kegigihan mencari ilmu tersebut menempatkan Abu al-Aliyah sebagai sosok yang alim. Analisisnya tajam. Suatu saat, sahabatnnya pernah melihat Abu al-Aliyah tengah berwudhu. Sang sahabat pun berkomentar bahwa bersuci yang dilakukan oleh Abu al-Aliyah tersebut disukai oleh Allah SWT seperti juga orang yang bertobat.

Abu al-Aliyah lalu berkomentar, “Wahai saudaraku, yang dimaksudkan (ayat tersebut) bukanlah orang yang bersuci dengan air yang kotor, tetapi mereka bersuci dengan rasa takutnya terhadap dosa.” Sang sahabat tertegun dengan jawaban tersebut dan hormat dengan kedudukan ilmu Abu al-Aliyah.    

Abu al-Aliyah juga menggelorakan semangat dan kecintaannya terhadap ilmu kepada murid-muridnya. Ini seperti tertuang dalam pesannya berikut ini: “Sibukkanlah diri kalian untuk menimba ilmu dan perbanyaklah bertanya tentangnya. Ketahuilah bahwa ilmu tidak akan hinggap bagi orang yang malu (dalam hal ilmu) dan orang yang sombong. Orang yang malu dia tidak mau bertanya karena malu, orang yang sombong tidak bertanya karena kecongkakannya.”

Keterikatan Abu al-Aliyah dengan para muridnya tak sebatas pada hubungan antara guru dan peserta didik, lebih dari itu ia menganggap mereka layaknya anak kandung sendiri. Petuah dan nasihat bijak kerap ia berikan dan menjadikannya sebagai pendidik yang sejati.

Ia pernah berpesan, “Beramallah dengan ketaatan, dan terimalah orang-orang yang taat karena ketaatan mereka kepada Allah SWT. Jauhilah maksiat dan musuhilah pelaku maksiat karena kemaksiatan yang dilakukannya. Kemudian, serahkanlah urusan orang yang bermaksiat itu kepada Allah, jika Allah menghendaki maka dia diazab.

Dan jika Dia menghendaki, maka akan diampuni. Jika kalian mendengar ada seseorang yang luhur jiwanya, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku mencintai karena mencari ridha Allah dan berpaling dari begini karena takut kepada Allah, maka jangnalah kalian melampaui batas.”