Kamis 22 Jun 2017 22:10 WIB

Responsif Terhadap Kebutuhan Pelancong Muslim

Nara sumber Rembuk Republik tentang wisata halal, Mataram, Kamis (8/6),konsultan penerbangan Farshal Hambali, Chairman IITCF  Priyadi Abadi dan Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Bisnis  dan Pemerintah Kementerian Pariwisata  Tazbir (dari kiri ke kanan).
Foto: Dok IITCF
Nara sumber Rembuk Republik tentang wisata halal, Mataram, Kamis (8/6),konsultan penerbangan Farshal Hambali, Chairman IITCF Priyadi Abadi dan Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Bisnis dan Pemerintah Kementerian Pariwisata Tazbir (dari kiri ke kanan).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Fuji Pratiwi

Dalam dua dekake terakhir, label halal tak lagi hanya dibutuhkan dan dicari hanya pada produk pangan. Halal berevolusi dan masuk ke jasa keuangan, pariwisata, produk gunaan, dan sektor riil yang luas hingga akhirnya menjadi gaya hidup. Khusus pariwisata, sektor ini mirip sektor properti yang punya kaitan panjang pada sektor lain. Pariwisata tak cuma memacu perbaikan infrastruktur, tapi juga menstimulus pertumbuhan UKM dan pembukaan lapangan kerja baru yang lebih luas.

Belakangan, wisata halal jadi segmen pasar yang menarik perhatian global. Bagaimana tidak, daya beli komunitas Muslim terbilang solid untuk jangka waktu yang panjang.

Laporan Pew Research Center menyebutkan, populasi Muslim dunia diprediksi akan meningkat 35 persen dari 1,6 miliar pada 2010 menjadi 2,2 miliar pada 2030. Tingkat pertumbuhan populasi Muslim diprediksi tumbuh dua kali lebih cepat dibanding komunitas agama lain. Jika pertumbuhan itu berlanjut, populasi Muslim akan mencapai 26,4 persen dari total populasi dunia yang mencapai 8,3 miliar pada 2030.

Ketua Ketua Indonesian Islamic Travel Communication Forum (IITCF) Priyadi Abadi mengamati, lima hingga 10 tahun lalu jarang terdengar istilah wisata halal. Tapi sekarang, wisata halal sudah jadi gaya hidup sebab kebutuhan berwisata selalu ada.

Dari pandangan sebagai praktisi, kata Priyadi, banyak pengusaha biro perjalanan Muslim yang masih fokus pada perjalanan ibadah haji dan umrah meski sudah demikian ramai pelakunya. “Wisata halal masih jadi sampingan sebagai pelengkap paket umrah, itupun wisata halal ke luar negeri seperti ke Turki atau Andalusia,” ujarnya.

Meski selintas mirip dengan wisata religi, wisata halal sendiri bersifat inklusif dan luas. “Semua objek atau tindakan yang diperbolehkan menurut ajaran Islam untuk digunakan atau melibatkan orang Muslim dalam industri pariwisata, itulah wisata halal,” kata Priyadi.

Objek wisata halal adalah satu keunggulan dan segmentasi unik yang akan sangat diperhitungkan ke depan. Sehingga,  tidak heran bila beberapa negara minoritas muslim pun seperti Thailand, Jepang, Korea Selatan, Cina, dan Eropa berlomba untuk terlibat.

Dalam laporan Global Muslim Travel Index (GMTI) 2017, Indonesia sudah masuk di tiga besar destinasi wisata halal dunia, tapi posisi Indonesia masih di bawah Malaysia bila komparasinya adalah negara-negara anggota OIC. Sementara dengan negara-negara non OIC, Thailand dan Singapura tak bisa dipandang remeh. Sejak 2012, Kementerian Pariwisata kemudian mulai menggulirkan wisata halal dan pengembangan sektor ini terus dipacu.

''Indonesia masih tertinggal dari Malaysia. Sementara Thailand juga sangat siap menyambut wisatawan Muslim dengan paket wisata dan hotel halal,'' kata Priyadi dalam Rembuk Republik dengan tajuk Kontribusi Wisata Halal dalam Pembangunan Nasional di Ballroom Masjid Hubbul Wathan Islamic Center, Mataram NTB pada Kamis (8/6). Diskusi yang diadakan dalam rangkaian Pesona Khazanah Ramadhan NTB itu juga menampilkan nara sumber Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Bisnis dan Pemerintah Kementerian Pariwisata Tazbir, dan konsultan penerbangan Farshal Hambali.

Bahkan, negara-negara kawasan Asia Timur seperti Taiwan dan Jepang terus berbenah untuk menjadi destinasi ramah Muslim. Di Taiwan, hotel dan restoran bersertifikat halal sudah bisa ditemui wisatawan Muslim. Begitu pula Jepang yang terus berinovasi menyuguhkan layanan ramah Muslim dengan tetap menonjolkan kekhasannya.

Enam komponen

Diakui Priyadi, Indonesia punya banyak pekerjaan rumah. Ia melihat setidaknya ada enam komponen kebutuhan wisata halal yang harus dipenuhi yakni makanan, fasilitas shalat, fasilitas bersuci dengan air, layanan saat Ramadhan, sertifikat halal, dan fasilitas rekreasi privat.

"Makan di restoran di Indonesia, kita yakin halal. Tapi apa punya sertifikat halal? Belum tentu. Padahal wisatawan Muslim mancanegara sangat berpegang pada sertifikat halal yang dikeluarkan otoritas,"  ungkap Priyadi.

Priyadi menegaskan, sertifikasi dan standardisasi sudah jadi acuan global. Kalau resto mengaku halal, harus mencantumkan sertifikat halal. Sebab ini tuntutan dasar wisatawan Muslim mancanegara.

Bersama para pengusaha biro perjalanan Muslim lainnya, Priyadi punya program Tebar Sejuta Alat Shalat di Seluruh Dunia. “Ke manapun Muslim bepergian, mereka tidak bisa meninggalkan kewajiban sebagai seorang Muslim. Ini jadi tantangan sendiri bisa tujuan wisatanya adalah negeri minoritas Muslim,” tuturnya.

Priyadi memberi contoh negara-negara Eropa Barat yang sering jadi destinasi wisata para pelancong Muslim tapi punya tantangan sendiri soal makanan halal dan fasilitas shalat. Program Tebar Sejuta Perangkat Shalat di Seluruh Dunia ini menyasar ke hotel, rest area, mal, pusat rekreasi, dan tempat-tempat lain di berbagai negara. Mereka berharap kebutuhan dasar wisatawan Muslim makin termudahkan.

Kalau ke mal di luar negeri, wisatawan Muslim sulit bila hendak shalat. Jadi saat menyerahkan alat shalat ini, mereka juga edukasi juga pengelola mal untuk menyediakan sedikit tempat untuk shalat dan beri tahu arah kiblatnya, terutama di negara mayoritas non Muslim. "Kewajiban biro perjalanan Muslim untuk menyampaikan hal  itu. Kalau tidak, mereka tidak akan pernah tahu,"  ungkap Priyadi.

Respons yang mereka (IITCF) dapat pun beragam, bahkan ada yang menolak. Tapi mereka menyampaikan para pengelola destinasi harus siap ditinggalkan wisatawan Muslim. "Muslim itu punya posisi tawar, tapi harus sama-sama dan kami memerhatikan itu,"  kata Priyadi.

Sebaliknya, para pengusaha biro perjalanan Muslim juga ingin contoh positif dari wisata halal luar negeri bisa diaplikasikan di Indonesia. Di berbagai negara sudah ada masjid-masjid raya seperti di Roma dan Paris.

Warga Indonesia punya masjid di Belanda. Sementara warga Turki punya masjid di beberapa negara. "Iri juga dengan Turki, terutama di Eropa. Mereka sangat kompak dan bisa bangun masjid besar," kata Priyadi.

Sementara fasilitas shalat di Indonesia, Priyadi mengaku prihatin. Banyak hotel di Ibukota yang mushalanya tidak representatif dengan lokasi di basement yang gelap dan bau. Masih banyak yang berpikir dari pada kamar jadi mushala, lebih baik dijual jadi kamar komersial.  "Pelaku industri pariwisata Indonesia belum menganggap wisata halal itu sebagai peluang,"  kata dia.

Priyadi mengapresiasi pusat perbelanjaan yang sudah menyadari pentingnya memberi layanan terbaik kepada semua pengunjung termasuk Muslim dengan menyediakan tempat shalat yang baik. "Perlu ada dukungan regulasi. Wisata halal harus dipandang sebagai nilai tambah," kata Priyadi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement