Senin , 17 July 2017, 18:31 WIB
Mengenal Sahabat Rasulullah

Amr Bin Ash, Saudagar Makkah yang Mahir Berdiplomasi

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Agung Sasongko
saharamet.org
Ilustrasi kafilah dagang di gurun pasir
Ilustrasi kafilah dagang di gurun pasir

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Cukup banyak sahabat Nabi Muhammad SAW yang pada awalnya sangat memben ci dakwah Islam. Namun, berkat pertolongan Allah SWT, hidayah menyinari hati mereka sehingga mereka termasuk ke dalam golongan yang men dukung pe nyebaran risalah Rasulullah kepada umat manusia. Buku Kisah Singkat Sahabat Nabi Muhammad SAW men ceritakan ihwal Amr bin 'Ash sebagai salah seorang yang mengalami hidayah demikian.

Di masa sebelum hijrah, Rasulullah mengalami tantangan yang hebat dari tiga orang tokoh musyrik Quraisy di Makkah. Mereka tidak hanya menarget Rasulullah, tetapi juga menyiksa sejumlah Muslim di depan umum untuk menyebarkan teror. Apalagi, pada masa awal dakwah sembunyi-sembunyi kebanyakan umat Islam merupakan orang-orang miskin atau yang tidak berkuasa.

Sampailah suatu waktu Rasulullah memanjatkan doa kepada Allah. Beliau ingin agar Allah menunjukkan kekuasaan-Nya kepada tiga orang gembong kaum musyrikin itu. Di tengah mu najatnya, Rasulullah tersentak dengan keadaan. Sebab, saat itulah wahyu Allah SWT turun, yakni Surah Ali Imran ayat 128, yang terjemahannya sebagai berikut. Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.

Rasulullah memahami maksud ayat yang baru saja turun itu. Di antaranya, Allah menghendaki agar Rasulullah memas rahkan ihwal tiga pemuka musyrikin ini sepenuhnya kepada Allah. Sebab, hanya Allah yang berkuasa menetapkan, apakah mereka tetap dalam kondisi zalim sehingga menerima murka-Nya ataukah sebaliknya, mereka kembali kepada jalan- Nya karena menerima hidayah dari Allah.

Amr bin 'Ash merupakan salah satu dari ketiga tokoh itu. Ia termasuk di antara para saudagar Makkah yang paling sukses. Ia biasa menjalin hubungan niaga dengan negeri-negeri jauh, seperti Mesir, Syam (Suriah), Habasyah (Ethiopia), dan Yaman. Kemampuannya berdiplomasi sungguh-sungguh piawai. Selain itu, ia juga dikenal sebagai salah seorang pakar strategi perang dan berjiwa kesatria sejak masa remajanya.