Kamis , 20 April 2017, 07:15 WIB

19 April 1953, 64 Tahun Lalu

Red: Muhammad Subarkah
Republika/Raisan Al Farisi
Seorang pengunjung melihat koleksi foto Gus Dur di rumah pergerakan Gus Dur sesaat sebelum pembukaan di Menteng, Jakarta Pusat, Ahad (24/1).
Seorang pengunjung melihat koleksi foto Gus Dur di rumah pergerakan Gus Dur sesaat sebelum pembukaan di Menteng, Jakarta Pusat, Ahad (24/1).

Oleh: Djoko Edhi Abduraahman, Mantan Anggota DPR

KH Abdul Wachid Hasyim wafat dalam sebuah kecelakaan di daerah Sumedang, Jawa Barat.

KH A Wachid Hasyim dikenal karena nasionalismenya. Beliau berjasa besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dan pembangunan umat Islam setelah kemerdekaan. Beliau pula yang memodernisasi kurikulum pendidikan di pesantren.

Sabtu 18 April 1953, KH A Wachid Hasyim meluncur ke Sumedang untuk mengikuti rapat Nahdlatul Ulama (NU). Gus Dur kecil ikut bersama ayahnya di dalam mobil Chevrolet.

Di daerah Cimindi, jalan antara Cimahi dan Bandung, cuaca hujan dengan kabut yang mengganggu pandangan. Terjadilah kecelakaan maut itu. Mobilnya selip, sopir tak mampu menguasai mobil hingga membentur bak belakang truk.

Saking kerasnya tabrakan, tubuh KH A Wachid Hasyim terlempar keluar. Pertolongan datang sangat terlambat. Ambulans baru datang pukul 16.00 WIB, sekitar tiga jam setelah kecelakaan.

KH A Wachid Hasyim dibawa ke rumah sakit. Sayang, nyawanya tak tertolong. Keesokan harinya dia meninggal, dalam usia 38 tahun. Berakhirlah jejak emas pengabdiannya untuk negara ini dan dunia Islam.

Gus Dur kecil yang ikut dalam perjalanan itu selamat dari kecelakaan itu. Kelak Gus Dur menjadi presiden Indonesia keempat. Dalam biografinya, Gus Dur menceritakan selama tiga jam dia menunggu ambulans dan ayahnya yang terluka parah di pinggir jalan akibat kecelakaan.

Khusûshon ilâ arwâhi KH M Hasyim Asy'ari, KH A Wachid Hasyim wa KH Abdurrahman Wahid, lahum-ul fâtihah...