Senin 17 Apr 2017 16:41 WIB

Di 'Kampung Toleransi', Masjid, Wihara, dan Gereja pun Bersebelahan

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Agus Yulianto
Suasana di Kampung Toleransi, Gang Ruhana, Kelurahan Paledang RT 01/RW 02 Kota Bandung. Di kampung ini, masjid, vihara dan gereja dibangun berdekatan dan warganya hidup rukun saling tolong menolong
Foto: Republika/Arie Lukihardianti
Suasana di Kampung Toleransi, Gang Ruhana, Kelurahan Paledang RT 01/RW 02 Kota Bandung. Di kampung ini, masjid, vihara dan gereja dibangun berdekatan dan warganya hidup rukun saling tolong menolong

REPUBLIKA.CO.ID,  Di sebuah Gang, bernama Gang Ruhana, yang terletak di Kelurahan Paledang RT01/RW 02 Kota Bandung, ada pemandangan yang sangat menarik. Ada apakah gerangan? Ya, di samping gang tersebut terdapat sebuah Gereja Pantekosta. Kemudian, saat masuk ke gang sekitar 50 meter tepat di belakang gereja, terdapat sebuah masjid bernama Masjid Al Amanah. Di samping masjid persis, berdiri sebuah wihara bernama Wihara Giri Meta.

Daerah tersebut, sekarang disebut sebagai Kampung Toleransi. Memang, sebutan tersebut sangat layak diberikan pada daerah ini. Karena, berdampingannya tempat ibadah berbagai agama, mencerminkan kalau masyarakatnya hidup rukun. Bahkan, begitu masuk gang, semua yang datang ke daerah tersebut akan disambut oleh lukisan mural, berupa lukisan tiga tempat ibadah.

"Toleransi menjadi hal biasa bagi kami di kampung ini. Bahkan, saat akan menggelar cap gomeh, rapatnya di dalam masjid," ujar Ketua RT 01 yang juga menjabat Sekretaris DKM Masjid Al Amanah Agus Sujana Juli, Senin (17/4).

Menurut Agus, walaupun di kampungnya masjid, wihara, dan gereja dibangun berdekatan, tapi warganya selalu hidup rukun saling tolong menolong. Bahkan, toleransi di kampung ini sudah lama terjalin. Dari sejak dirinya kecil, dia selalu bermain dengan orang Cina yang beragama Kristen, Buddha, dan Konghucu.

"Saya kecil di sini. Jadi, sudah biasa bermain di klenteng, di gereja sama orang Cina main karet, keleci, dan permainan lainnya," katanya.

Bahkan, kata dia, semua masyarakat Muslim di Kampung Toleransi memiliki kebiasaan setiap dua hari akan lebaran membuat nasi kuning untuk dibagikan ke tetangganya yang non-Muslim.

"Jadi, saya sama kakak saya berlomba-lomba nganterin nasi kuning ke tetangga. Soalnya, nanti kami diberi kue kaleng sama tetangga," katanya.

Kebiasaan hidup dalam kebersamaan, kata dia, sudah menjadi budaya di Kampung Toleransi. Bahkan, dahulu neneknya sering mengobati anak tetangganya yang keturunan tiong hoa kalau ada yang sakit atau kesurupan.

"Kalau ada yang meninggal, agama apa pun kami selalu saling membantu tanpa melihat agamanya apa," katanya.

Kebersamaan masyarakat pun, kata dia, ditunjukkan saat daerahnya akan menggelar upacara cap gomeh. Saat rapat, seringkali digelar di masjid. Semua masyarakat berbagai agama, ikut serta menjadi panitia dalam acara keagamaan itu.

"Yang paling menarik, saat Cap Gomeh warga mengundang Anton Medan untuk berceramah dan ceramahnya di depan gereja. Kayaknya, nggak ada acara seperti itu di tempat lain," katanya.

Walaupun rumah ibadah tiga agama berdekatan, tapi satu sama lain tak ada yang merasa terganggu dalam menjalankan ibadah. "Waktu acara cap gomeh, saat acara sedang ramai-ramainya, di masjid ada adzan, itu musiknya seketika langsung berhenti tanpa ada yang meminta atau mengomando," katanya.

Kebersamaan lainnya, diperlihatkan saat Ia memiliki gagasan membangun masjid. Ada salah seorang warga Muslim yang akan menyumbang pembangunan masjid. Tapi, Ia memiliki dana yang masih dalam bentuk aset rumah.

"Nah, yang membantu menjualkan rumah itu warga keturunan Tionghoa. Sampai rumah kejual dan kita punya dana untuk membangun masjid," katanya.

Tak hanya itu, kata dia, masyarakat non-Muslim di kampungnya pun banyak yang menyumbang untuk pembangunan masjid. Yakni, dari mulai menyumbang cat tembok, ada yang menyumbang menara masjid sampai menyumbang jam dinding.

"Warga di sini 60 persen non-Muslim dan 40 persen Muslim, tapi kami hidup dalam kebersamaan," katanya.

Keberadaan Vihara, kata dia, di kampungnya berdiri sejak 1946. Sedangkan gereja, berdiri sekitar tahun 60-an dan masjid berdiri pada 2014 atas swadaya masyarakat.

Lukisan Mural di depan gang sendiri, kata dia, menggambarkan kebersamaan, sebagai gambaran walaupun berbeda-beda tapi bisa terus hidup harmoni. "Saya makanya sedih kalau melihat di TV  apa yang diributkan, masalah toleransi jadi banyak dipermasalahkan," katanya.

Pengurus Vihara Giri Meta Wong Ceping yang akrab disapa Ko Ahoy mengatakan, di Kampung Toleransi keberadaan vihara, masjid, dan gereja, tak pernah ada masalah walaupun letaknya berdekatan dan berdampingan. Tapi, semua masyarakat dari berbagai agama selalu berbaur

"Kalau ada kegiatan agama, justru kami saling membantu. Baik itu acara imlek, paskah atau lebaran kami  saling bantu dan gotong royong," katanya.

Ahoy mengatakan, saat acara Paskah semua masyarakat baik Muslim maupun yang beragama lain, ikut menjaga keamanan gereja. Begitu juga saat acara cap gomeh, masyarakat non-Muslim sering menggelar rapat di masjid. Pengurus masjid pun, tak berkeberatan tempatnya digunakan rapat.

Ahoy mengatakan, dirinya pun menikah dengan orang Sunda. Ini, kata dia, semakin mempererat kebersamaan warga karena beberapa warganya ada juga yang menikah dengan tetangganya yang Muslim.

"Saya senang sharing dengan warga Muslim. Saya juga, lagi belajar islam. Kiainya, ulamanya hebat-hebat ya kalau NU mereka nggak pernah mengumbar kebencian," kata Ahoy seraya mengatakan, ia selalu saling mengisi dan berbagi dengan tetangganya yang Muslim.

Dikatakan Ahoy, wiharanya pun terbuka untuk semua masyarakat. Sering kali, tetangganya yang Muslim bermain di viharanya. Setiap Lebaran, Ahoy pun rajin mendoakan tetangga Muslim-nya yang pulang mudik agar pulang selamat.

"Kampung ini, akur dan bisa jadi percontohan. Ada yang lmau mudik lebaran, saya berdoa yang tulus agar mereka selamat walaupun cara berdoanya berbeda kan tujuannya sama untuk kebaikan," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement