Jumat , 14 April 2017, 07:00 WIB

Enam Kitab Hadis, Sumber Otoritatif Kedua Sesudah Alquran

Red: Agus Yulianto
Banyak hadis shahih yang meriwayatkan keutamaan mimpi berjumpa Rasulullah SAW.
Buku panduan cara cepat membaca kitab dan menguasai bahasa arab, Al Hadist diperlihatkan saat kursus bahasa arab angkatan II di Jakarta, Senin (2/2). (Republika/ Tahta Aidilla)

Sunan Nasa'i

Nasa'i terkenal sangat selektif dalam meriwayatkan Hadis. Dalam mengomentari selektifitas Nasa'i, Ibn Shalah mengatakan, bahwa Nasa'i berani meriwayatkan hadis yang dipersengketakan. Artinya, pada setiap generasi, di mana saat itu muncul kritikus-kritikus Hadis yang terkadang keras dan moderat, Nas'i mensikapinya dengan pemahaman yang objektif.

Naisaburi dalam komentarnya terhadap periwayatan al-Nasa'i mengatakan, "Syarat yang dipakai Nasa'i lebih ketat dibanding syarat yang digunakan Muslim al-Hajjaj". Dan mungkin karena faktor inilah Abu Abdillah al-Rasyid dalam muqadimah Sunan Nasa'i mengungkapkan bahwa Sunan Nasa'i merupakan kitab terbaik, sebab di dalamnya menggabungkan dua bentuk metodologi Bukhari-Muslim dan menambah banyak keterangan yang menyangkut illat (cacat rawi).

Sunan Nasa'i merupakan karya terbesar Abu Abdurrahman Ahmad bin Syuaib bin Ali bin Sinan bin Bahr al-Khurasani al-Nasa'i. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa penulisan tentang Sunan Nasa'i dimaksudkan sebagai persembahan karya terbesar kepada Gubernur Ramlah. Ketika kitab tersebut hendak diserahkan, Gubernur Ramlah sempat bertanya pada Nasa'i, "Apakah isi kitab itu shahih?" Nasa'i menjawab, "Ada yang shahih, ada yang hasan, dan ada pula yang mendekati keduanya". Gubernur Ramlah lalu menyuruh Nasa'i untuk menyeleksi kembali hadis-hadis yang semula bernama Sunan al-Kubra tersebut.

Namun, karena dalam kenyataannya Sunan Nasa'i masih memuat hadis-hadis majhul (tidak diketahui), majruh (cacat), dhaif, dan memuat perawi yang terkadang masuk dalam kategori al-juhalat (bodoh), ghair tsiqat (tak bisa dipercaya, al-ghulat (salah), dan semacamnya, maka banyak ulama berselisih pendapat tentang kedudukan Sunan Nasa'i dalam kategori kesahihannya. Tapi, karena Hadis-hadis yang dituduhkan itu tidak terlampau banyak dibanding Hadis-hadis yang shahih dan belum terdapat dalam literatur ulama sebelumnya, maka secara umum mayoritas ulama menilai Sunan Nasa'i sebanding dengan Sunan Abu Daud.

Sunan Ibn Majjah

Selama hidupnya, Ibn Majah meninggalkan karya tidak kurang dari 30 buah. Karya-karya itu terbagi dalam tiga kelompok besar: Tafsir, Tarikh (biografi), dan Hadis. Namun di antara ketiganya, bidang yang terakhir merupakan buah tangan yang paling masyhur dengan karya Sunannya. Dari segi materi Sunan ibn Majah terdiri dari 4.341 hadis, 3.002 di antaranya telah termaktub dalam Kutub al-Khamsah (Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa'i), dan hanya sekitar 1.339 hadis saja yang terbilang orisinil. Dalam penelitiannya, Fuad Abd Baqi' menjelaskan bahwa dari 1.339 Hadis yang dikatakan orisinil tersebut, 328 berkualitas shahih, 99 di antaranya hasan, 613 berkualitas dhaif; dan 99 lainnya berkualitas tertuduh (buruk).

Sementara Ibn Hajar mencatat bahwa jumlah bab dan pasal yang terkandung dalam Sunan Ibn Majjah lebih sistematis dan tersusun lebih rapi dibanddingkan dengan bab-bab yang ada dalam kitab Hadis lain. Keterangan-keterangan yang termuat dalam Sunan Ibn Majah umumnya singkat tapi jelas. Sedang sitematika pembahasannya tidak jauh berbeda dengan kitab-kitab sunan pada umumnya.

Jika dibanding dengan Kutub al-Khamsah, Sunan Ibn Majah memiliki berbagai kelemahan. Pertama, memuat banyak Hadis berkatagori zawaid atas Hadis-hadis yang ada dalam Kutub al-Khamsah. Kedua, Hadis yang berkualitas dhaif tidak mendapat kejelasan sebab kedhaifannya, dan karena persoalan inilah banyak ulama hadis memandang sebelah mata terhadap Sunan Ibn Majjah. Fuad Abd Baqi' mencatat, ada sekitar 712 Hadis dhaif dalam Sunan Ibn Majah dan dibiarkan begitu saja tanpa komentar dan penilaian sedikit pun.

Sumber : Disarikan dari Pusat Dokumentasi Republika