Sabtu 04 Feb 2017 00:00 WIB

Hoax Sudah Ada Bahkan Sejak Zaman Nabi

Rep: Lintar Satria/ Red: Andi Nur Aminah
Warga membubuhkan cap tangan saat aksi Kick Out Hoax di Solo, Jawa Tengah, Minggu (8/1).
Foto: Antara/Mohammad Ayudha
Warga membubuhkan cap tangan saat aksi Kick Out Hoax di Solo, Jawa Tengah, Minggu (8/1).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah H Abdul Mu'ti, mengatakan kabar bohong atau hoax bukan sesuatu yang baru terjadi. Hoax menurut dia sebuah fenomena yang sejak dulu sudah ada, bahkan Alqura merekamnya dalam surat An-Nur.

"Kalau kita baca secara seksama menceritakan sebuah kebohongan besar yang disebutkan dengan if atau ifkun dibacanya if," katanya dalam pengajian bulanan Muhammadiyah yang bertema Dunia Medsos dan Fiqih Informasi, Jumat, (3/2).

Sampai ada beberapa ayat dalam surat An-Nur, Abdul mengatakan, jika dilihat dari asbabun nuzul terjadi karena ada berita bohong atau hoax. Abdul menceritakan secara singkat tentang /hoax dalam masa Nabi Muhammad SAW.

Tepatnya ketika Rasulullah SAW  selesai berperang dengan Bani Mustaliq pada tahun 5 hijriah. Dalam setiap peperangannya, kata Abdul, Rasulullah SAW selalu didampingi istrinya. Ketika itu sesuai dengan gilirannya yang mendampingi beliau ialah Aisyah RA.

"Dan seperti biasa setiap istri Rasulullah mendampingi di peperangan selalu ditandu di sekeduk, setelah perang berkecamuk Aisyah keluar karena suatu keperluan tapi ketika beliau kembali ke tendannya, tendanya sudah tidak ada, sudah diangkut karena perang sudah selesai," kata Abdul.

Karena tendanya sudah tidak ada, lanjut Abdul, maka Aisyah memutuskan beristirahat di tempat dimana sebelumnya tendanya berdiri. Sampai akhirnya ia tertidur di sana. Ia kelelahan karena ketika keluar kalungnya yang terbuat dari tulang-tulang unta terjatuh dan Aisyah mencarinya.

Kemudian ada sahabat Nabi yang bernama Sofyan Ibnu At-tar menemukan Aisyah tertidur. Sofyan ditugaskan untuk melakukan inspeksi akhir setelah peperangan. "Karena setelah perang selesai itu ada sahabat ditugasi nabi inspeksi akhir kalau ada korban yang tidak sempat tertolong dan sebagainya," tutur Abdul.

Setelah Aisyah bangun Sofyan mengajak Aisyah pulang. Dalam perjalanan pulang Sofyan menuntun unta yang dikendarai Aisyah. Ketika memasuki Kota Madinah orang-orang munafik menyaksikan hal tersebut. Salah satunya Abdullah bin Ubay bin Salul.

"Tokoh munafik yang terkenal itu, melihat hal ini kemudian ia membuat berita hoax. Ia sebarkan berita telah terjadi perselingkuhan antara Aisyah dengan Sofyan," kata Abdul.

Abdul mengatakan hoax yang disebarkan Abdullah bin Ubay bin Salul sangat logis. Abdullah bin Ubay membuat cerita tersebut seakan-akan ada buktinya. "Bahkan ketika saya membaca di riwayat Bukhari-Muslim itu Rasullah pun termakan oleh peristiwa itu karena sangat logisnya bahkan dalam satu riwayat disebutkan beliau tidak menyapa Aisyah beberapa hari beliau dalam keadaan sakit ketika itu," Abdul menuturkan.

Karena itu Abdul mengatakan hoax bukan sesuatu yang baru, tapi sudah sejak lama ada. Tapi bentuk penyebarannya saja yang berbeda. Kalau dulu dari mulut ke mulut, kata Abdul, sekarang dari ibu jari ke ibu jari. Jika dulu hoax dari kampung ke kampung sekarang dari akun ke akun.

Dampaknya pun, kata Abdul, masif luar biasa. Abdul menjelaskan dalam teori peradaban kecanggihan teknologi harus senantiasa cocok dengan keadaban. Kalau teknologi canggih dipakai oleh orang-orang yang tidak memiliki keadaban maka terjadi ketidakcocokan.

"Nah ketidakcocokan inilah yang menjadi masalah kita sekarang ini, teknologinya canggih tapi orang menggunakannya belum kompetibel, belum sesuai dengan teknologinya," kata Abdul.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement