Senin 21 Nov 2016 08:58 WIB

Begini Cara Para Ustaz Mengungkapkan Cintanya pada Allah SWT

Rep: Crystal Liestia Purnama/ Red: Damanhuri Zuhri
Ustaz Erick Yusuf
Foto: istimewa
Ustaz Erick Yusuf

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Konfrensi Pecinta Allah kembali digagas oleh Indonesia Syiar Network (ISN), melalui Love and Pray. Acara dakwah yang dihadiri para ulama itu memaparkan tausiah dalam mencari cara untuk mencintai Allah melalui doa dan segala tindakan yang dapat menghadirkan ridha-Nya.

Diantara yang hadir dalam acara tersebut Ustaz Novel Alaydrus, Ustaz Arifin Jayadiningrat, Kang Rashied, Ustaz Salman Al-Farisi, Ustaz Yuke Sumeru, Brother Mustafa, Ustaz Erick Yusuf, dan  Ustaz Abi Maki.

"Bahasa cinta adalah bahasa yang universal, bahasa yang tak pernah habis jika dibahas. Cinta tak hanya berbicara tentang sesama manusia, cinta bisa mewakili perasaan terhadap mahluk hidup lain, alam, bahkan yang lebih agung cinta kepada Sang Maha Pencipta, Allah SWT," tutur ustaz Erick dalam keterangan tertulisnya, Senin (21/11).

Cinta sangatlah luas,  cinta menjadi sumber inspirasi. Cerita cinta seakan tak pernah habis tertuang dalam kata-kata, maupun sebuah karya seni yang agung belum tentu dapat mewakili ekspresi mengenai cinta. Karenanya, melalui tema tersebut diangkat satu tema acara yang menjadi berbagai manifestasi cinta, cinta yang hakiki, cinta mahluk kepada sang pencipta, cinta dalam sebuah doa, cinta umatnya kepada Allah SWT.

Hadir dengan cara yang berbeda diantara pembicara yang mengisi acara, Ustadz Erick Yusuf bersama tim dari iHAQi memadukan antara elemen audio visual dengan seni teater yang dikemas sebagai satu bagian utuh dalam merepresentasikan makna cinta.

Diawali dengan susana yang gelap gulita kemudian muncul suara-suara samping yang berbaur dengan bunyi-bunyian etnik yang dibalut nyanyian ronggeng membangun suasana gedung Skeeno Excebition Hall Gandaria City, Sabtu, (19/11). Puisi mengenai cinta menjadi satu jembatan yang menjemput sosok Ustadz Erick Yusuf ke atas panggung.

Suasana  menjadi semakin menarik ketika Ustadz yang dikenal dengan dakwah kreatif mengambil sebuah gitar dan mengajak penonton bernyanyi bersama melantunkan nada pujian “la ilaha illallah Muhammadur Rasulullah” satu tembang yang dikemas dan diperuntukan sebagai sebuah wasiat seorang ayah kepada anaknya.

Bunga dibagikan, penonton bertasbih bersama, ditutup dengan doa dan harapan agar seluruh umat Islam saat ini dapat kembali mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya melebihi cinta manusia kepada manusia, sehingga melalui hal tersebut akan hadir ridonya Allah kepada mereka yang dikehendaki.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement