Ahad 31 Jul 2016 13:46 WIB

Hidayat Nur Wahid: Konferensi Ulama Internasional Harus Berkelanjutan

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Hazliansyah
Ulama dari Negara Burma Waqarudhin Ahmad bersama Ulama Sudan Syekh Usman Abu Zaid, Moderator Syakur, Ulama dari Myanmar Abu Ridho Annadwi (dari kiri ke kanan) memberikan pemaparannya saat berdiskusi dalam Konferensi Ulama Internasional yang diadakan di Sen
Foto: Republika/ Raisan Al Farisi
Ulama dari Negara Burma Waqarudhin Ahmad bersama Ulama Sudan Syekh Usman Abu Zaid, Moderator Syakur, Ulama dari Myanmar Abu Ridho Annadwi (dari kiri ke kanan) memberikan pemaparannya saat berdiskusi dalam Konferensi Ulama Internasional yang diadakan di Sen

REPUBLIKA.CO.ID, LOMBOK BARAT -- Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid menilai Konferensi Ulama Internasional bertajuk "Wasathiyah untuk mencegah Terorisme dan Sektarianisme" merupakan salah satu langkah positif dalam membahas isu-isu seputar dunia Islam.

"Sebuah kerja sama sangat baik untuk mengarusutamakan ber-Islam yang baik dan benar, dan mengkoreksi salah paham," katanya di Hotel Santosa, Lombok Barat, NTB, Ahad (31/7).

Konferensi yang berlangsung sejak 30 Juli hingga 1 Agustus ini digelar atas kerja sama Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan Rabithoh Al ‘Aalam Al Islami atau Liga Dunia Islam. Rabithoh Al ‘Aalam Al Islami sendiri merupakan lembaga Islam non pemerintah yang didirikan di Mekah, Arab Saudi pada Mei 1962 silam.

Hidayat menilai, konferensi ini juga menepis tudingan bahwa Arab Saudi tidak peduli dengan terorisme, bahkan justru membiayai terorisme.

"Itu tidak benar, lewat Rabithah, Saudi menyebarkan pemahaman Islam yang moderat. Jadi ini sebuah upaya untuk mengajak pemahaman yang benar tentang Islam," ungkapnya.

Menurutnya, hal ini serupa dengan keinginan Presiden Jokowi agar mewujudkan Islam yang moderat dan Indonesia sebagai pusat pemikiran Islam.

Untuk mewujudkan hal tersebut, ia menilai konferensi semacam ini haruslah berkelanjutan mengingat mengokohkan Islam yang moderat tentu memerlukan kerja sama yang kuat dan berkelanjutan.

"Tuduhan Islam sebagai terorisme ini bersifat internasional, maka konferensi yang digelar harus bersifat Internasional, akan bisa koreksi secara efektif," katanya menambahkan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement