Jumat 06 May 2016 13:08 WIB

Begini Cara Politisi Papua Maknai Isra Mi'raj

People pray in an Islamic festivity in Jakarta. Muslims celebrate Isra Miraj every 27th of Rajab, to commemorate the Prophet Muhammad PBUH's journey to receive God's command to pray five times a day and night. (illustration)
Foto: Antara/Yudhi Mahatma
People pray in an Islamic festivity in Jakarta. Muslims celebrate Isra Miraj every 27th of Rajab, to commemorate the Prophet Muhammad PBUH's journey to receive God's command to pray five times a day and night. (illustration)

REPUBLIKA.CO.ID, JAYAPURA -- Legislator Gerindra yang juga Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) Yanni SH mengajak umat Islam selalu memaknai Isra Mi’raj. Peristiwa penting dalam sejarah peradaban Islam ini disebut menandai kerasulan Nabi Muhammad SAW.

"Sebagai umat Islam, saya mengajak kita semua (umat Islam) untuk selalu berusaha memaknai hikmah di balik peristiwa tersebut. Salah satunya bahwa perjalanan Mi’raj Nabi Muhammad SAW berawal dari berbagai tantangan dan berakhir dengan membawa bekal ke bumi berupa shalat lima waktu bagi umat Islam," ujar Yanni, di Jayapura, Jumat (6/5).

Ia mengatakan, hal itu setidaknya bisa menjadi inspirasi bagi umat Islam bahwa setiap tantangan yang dihadapi dalam setiap perjalanan kehidupan mestinya berakhir dengan menghasilkan bekal kebaikan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain, terlebih lebih bagi seorang pemimpin.

Jangan pernah menyerah terhadap tantangan yang dialami, melainkan harus dihadapi dengan penuh semangat dan optimisme.

"Semoga momentum peringatan Isra Mi’raj tahun ini akan lebih meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT dan sekaligus menjadi spirit dalam memberikan bekal kebaikan pada diri sendiri maupun kepada orang lain," ujar Yanni.

Setiap tanggal 27 Rajab, umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, memperingati peristiwa penting dalam sejarah perjalanan peradaban Islam, yaitu Isra Mi’raj. Suatu peristiwa yang menandai kerasulan Nabi Muhammad SAW, yakni perjalanan panjang Nabi Muhammad SAW yang ditempuh dengan waktu singkat dari Makkah ke Yerusalem dan dinaikkan Allah ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah shalat lima waktu.

Perjalanan itu merupakan suatu peristiwa yang sulit dijangkau dengan nalar manusia. Isra Mi’raj dinilai hanya dapat diyakini dengan keimanan karena Isra Mi'raj adalah peristiwa yang mengandung nilai spritual yang tinggi.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement