Sabtu 02 Jan 2016 11:21 WIB

Rasulullah yang Terbuka dengan Pendapat Orang Lain

Warga NU menghadiri Pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama Nahdlatul Ulama di Masjid Istiqlal, Jakarta, Ahad (14/6).(Republika/Wihdan Hidayat)
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Warga NU menghadiri Pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama Nahdlatul Ulama di Masjid Istiqlal, Jakarta, Ahad (14/6).(Republika/Wihdan Hidayat)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Salah satu dari sekian banyak sifat yang harus umat Islam teladani dari Nabi Muhammad SAW adalah keterbukaan.

“Rasulullah SAW sangat terbuka dengan pemikiran dan pendapat orang lain bila memang baik,” ujar Sekretaris Departemen Dakwah dan Pengkajian Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI) ustaz Ahmad Yani, dilansir dari dmi.or.id, Sabtu (2/1).

Ketika mengatur siasat perang dengan sistem bertahan, beliau menerima pendapat sahabat Salman Al Farisi untuk menggali parit hingga perang itu dinamai Khandak.

Begitu pula saat para sahabat tidak mau menyembelih kambing yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW.Hal ini terjadi, ujar Yani, karena Nabi Muhammad SAW tidak jadi umrah pada tahun keenam hijrah setelah perjanjian Hudaibiyah.

Saat itu, Nabi Muhammad SAW menerima pendapat istrinya, Ummu Salamah RA, untuk lebih dahulu melakukan penyembelihan. Setelah itu, para sahabat pun melakukannya.

“Kemunduran hingga penyimpangan yang dihadapi umat Islam saat ini, salah satu sebabnya ialah seseorang yang tidak terbuka untuk menerima pendapat orang lain,” tegas Yani.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement