Senin 03 Aug 2015 06:44 WIB
Muktamar NU

'Kami Menolak Cara Premanisme'

Peserta mengikuti Sidang Pleno I Muktamar NU ke-33 di Alun-alun Jombang, Jatim, Ahad (2/8). Sidang pleno yang diikuti sekitar 4000 peserta dengan agenda pembahasan tata tertib (tatib) Muktamar ke-33 NU.
Foto: Republika/Yasin Habibi
Peserta mengikuti Sidang Pleno I Muktamar NU ke-33 di Alun-alun Jombang, Jatim, Ahad (2/8). Sidang pleno yang diikuti sekitar 4000 peserta dengan agenda pembahasan tata tertib (tatib) Muktamar ke-33 NU.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Pemaksaan sistem ahlul halli wal aqdi (Ahwa) dinilai kurang memperhatikan faktor akhlak.

“Kami menolak cara-cara premanisme. Karena itu saya secara tegas menolak mengisi formulir,” ujar Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung KH Aliman Marzuqi, dalam rilisnya, Senin (3/8).

Ia mengaku prihatin terhadap perilaku Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Panitia Muktamar NU yang dianggap sama sekali tak mencerminkan akhlak mulia. Aliman tak sendirian.

Banyak perwakilan NU daerah menolak duet kepemimpinan petahana KH Mustofa Bisri (Gus Mus) sebagai pejabat Rais Am Syuriah dan KH Said Aqil Siraj sebagai ketua umum PBNU. Mereka, sebuat Aliman, gagal membendung serbuan paham luar ahlussunah wal jamaah (Aswaja) ke dalam NU.

“Apalagi Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdallah adalah menantu Gus Mus sendiri. Semoga muktamar Jombang kali adalah momentum kembalinya pengurus NU ke khittah tanpa di perdaya partai politik dan nafsu keserakahan,” ujar Aliman.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement