Kamis 23 Oct 2014 15:10 WIB

Momen Tahun Baru Islam Jangan Sebatas Seremonial

Rep: sonia fitri/ Red: Damanhuri Zuhri
Pawai Obor.  Anak-anak memegang obor sambil berjalan di kawasan pemukiman diJakarta, Rabu (14/11)malam. Mereka menyambut datangnya tahun baru islam 1434 H.
Foto: Republika/Tahta Adilla
Pawai Obor. Anak-anak memegang obor sambil berjalan di kawasan pemukiman diJakarta, Rabu (14/11)malam. Mereka menyambut datangnya tahun baru islam 1434 H.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam hitungan hari, 25 Oktober 2014 Masehi mendatang, umat Islam akan menyambut tahun baru hijriyah. Berdasarkan perhitungan hijriyah, tanggal tersebut bertepatan dengan 1 Muharam 1436 hijriah.

Menyambut kedatangannya, umat Islam diimbau agar memaknai hari tersebut dengan sarana introspeksi diri, jangan sampai larut dalam euphoria dan tindakan seremonial belaka.

“Satu Muharam adalah momen hijrah Rasulullah SAW dan umatnya dari kondisi yang buruk ke arah yang baik, dan dari kondisi baik ke arah yang lebih baik,” kata Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag) Muchtar Ali kepada Republika pada Kamis (23/10).

Dimulai dengan memahami momen satu Muharam dari aspek kesejarahan itulah, kata dia, umat Islam harus memanfaatkannya sebagai sarana pengingat untuk senantiasa berintrospeksi setiap hari.

Jika pun ada inisiatif dari seseorang atau kelompok masyarakat untuk melakukan hal-hal seremonial dalam menyambut tahun baru, hal tersebut sebetulnya baik dalam memasyarakatkan momen tahun baru Islam di kalangan umat Islam.

Namun, kata dia, jangan berhenti sampai di sana. Jangan sampai masyarakat Islam larut dalam pesta seremonial yang berujung pada kelalaian dalam mengingat Allah. “Kegiatan seremonial tahun baru Islam harus dilanjutkan dengan berkaca diri, muhasabah dan introspeksi,” tuturnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement