Minggu, 12 Ramadhan 1439 / 27 Mei 2018

Minggu, 12 Ramadhan 1439 / 27 Mei 2018

Para Pustakawan Peradaban Islam

Senin 14 Mei 2018 16:17 WIB

Rep: Yusuf Ashiddiq/ Red: Agung Sasongko

Ilustrasi ilmuwan Muslim saat mengembangkan sains dan teknologi pada era Dinasti Abbasiyah di Baghdad.

Ilustrasi ilmuwan Muslim saat mengembangkan sains dan teknologi pada era Dinasti Abbasiyah di Baghdad.

Foto: Wordpress.com
Pustakawan sering pula merangkap tugas sebagai pengajar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kemajuan yang dicapai umat Islam di bidang ilmu pengetahuan pada masa kekhalifahan, sangat ditunjang oleh keberadaan perpustakaan. Fasilitas ini tersebar di kota-kota besar Islam. Fungsinya tak sekadar tempat simpan pinjam buku, tapi juga merupakan pusat kajian ilmu pengetahuan.

Sejarah mencatat, sejumlah kota besar yang pernah menjelma sebagai kutub peradaban Islam, misalnya Baghdad, Kordoba (Andalusia), Kairo, ataupun Damaskus, sudah memiliki perpustakaan besar yang representatif. Koleksinya mencapai ribuan buku dan manuskrip yang sebagian besar adalah karya para ulama, ilmuwan, dan cendekiawan besar pada masa itu.

photo

Ilustrasi kota melingkar Baghdad di abad ke-10.

Bani Umayyah yang berkuasa dari tahun 661 hingga 750  Masehi, memberi perhatian besar terhadap perpustakaan. Mereka membangun sebuah perpustakaan besar di Kordoba, yang oleh sejarawan Ehsan Masood dalam buku Ilmuwan Muslim Pelopor Hebat di Bidang Sains Modern, disebut sebagai  'permatanya Kordoba'.

(Baca Juga: Modal Umat Islam Membangun Peradaban)

Koleksinya mencapai 400 ribu judul. Ini merupakan perpustakaan terbesar pada masa tersebut. Sedangkan di Baghdad pada masa Khalifah al-Ma'mun dari Bani Abbasiyah, ada Baitul Hikmah yang dipastikan adalah sebuah perpustakaan besar sekaligus menjadi tempat kajian dan penerjemahan karya-karya dari peradaban asing.

Berkembangnya sarana perpustakaan pada akhirnya membutuhkan tenaga pustakawan yang andal. Dia dituntut menguasai banyak hal. Mulai dari pengenalan koleksi buku, hingga intisari dari sebuah karya penting agar mampu menjelaskannya secara gamblang kepada para calon pembacanya.

Dengan demikian, para pustakawan terkemuka di masa kekhalifahan Islam, bukanlah orang sembarangan. Mereka adalah sarjana dan ahli ilmu pengetahuan, bahkan tak jarang bertitel profesor. George Abraham Makdisi dalam Cita Humanisme Islam, mencatat nama Abd al-Salam ibn al-Hasan ibn Muhammad al-Bashri.

photo

Ilmuwan Muslim.

Makdisi mengatakan, Abd al-Salam merupakan pustakawan dan manajer administrasi yang terkenal dari Perpustakaan Dar al-Kutub di Baghdad. Ia seorang pakar humaniora. Selain itu, ia juga menguasai berbagai cabang pengetahuan, mulai dari ilmu Alquran, hadis, hingga leksikografi.

Melalui tangan dinginnya, perpustakaan ini tumbuh pesat dan menjadi salah satu kiblat pengetahuan di dunia Islam. Menurut Makdisi, ketika meninggal tahun 1014 Masehi, Abd al-Salam dimakamkan di sebelah makam pakar tata bahasa terkemuka, Abu Ali al- Farisi. Ini penghargaan atas kontribusinya dalam memajukan ilmu pengetahuan.

(Baca Juga: Dari Buku Peradaban Islam Menyinari Eropa)

Al Qayrawani pun patut mendapat perhatian, mengingat keahliannya dalam mengelola perpustakaan di Madrasah Nizamiyah di Baghdad. Seperti halnya Abd al-Salam, dia juga seorang pakar, yakni di bidang filologi. Cendekiawan Muslim, al-Suyuthi, menyatakan al-Qayrawani adalah pustakawan pertama di perpustakaan yang berpengaruh tersebut.

Pustakawan sebagai profesi yang penting di era itu pun dibuktikan oleh kehadiran Abu Manshur Muhammad bin Ahmad al-Khazin. Ia wafat pada 1116 Masehi. Pakar fikih dari mazhab Syiah Imamiyah ini adalah juga pakar humaniora khususnya dalam ilmu tata bahasa dan leksikograf.

Makdisi menjelaskan, sebagai seorang kaligrafer terkemuka, Abu Manshur kerap mendapat tugas menyalin berbagai karya dengan kaligrafinya yang indah. Ia pun dijuluki Sang Pustakawan atau ‘al-Khazin’ karena kepiawaiannya dalam mengelola perpustakaan. Ia menduduki jabatan pustakawan di Dar al-Kutub pada 993 Masehi.

Nama lain yang muncul sebagai pustakawan ternama adalah Abu Abdullah Muhammad bin al-Hasan bin Zarrarah al-Tha'i. Ia hidup pada abad ke-12. Menurut sejarawan al-Salafi, al-Tha’i, tokoh ini memiliki beragam profesi hebat karena keahliannya di berbagai cabang pengetahuan.

Selain sebagai pustakawan, al-Tha'i mengepalai rumah sakit di Iskandariyah. Pakar humaniora yang menetap di Baghdad ini mengurus sebuah perpustakaan masjid yang cukup besar di sana. Di masjid itu, juga terdapat sebuah kelompok studi yang mengkaji masalah humaniora.

Ali bin Ahmad bin Bakr menjelma juga menjadi pustakawan. Sebelum menekuni bidang tersebut, ia belajar leksikografi pada al-Jawaliq dan belajar tata bahasa pada Ibnu al- Syajari. Selama beberapa lama, ia bertugas sebagai pustakawan madrasah. Ia menyalin pula catatan seorang kaligrafer tentang sejumlah buku adab.

Rangkap tugas

Dalam praktiknya, ada kalanya seorang pustakawan merangkap sebagai pengajar. Hal ini dilakukan oleh pustakawan bernama al-Qayrawan. Ia tak hanya menjalankan tugasnya mengelola perpustakaan di Madrasah Nizamiyah, tapi juga diminta mengajar tata bahasa dan leksikografi.

photo

Seif Islam, penjaga perpustakaan kuno di Kota Chinguetti, Mauritania

Dua pustakawan sebelumnya di tempat yang sama, yaitu al-Ukhbari dan al-Wasithi, juga mendapat tawaran serupa. Namun, al-Ukhbari menolak tawaran itu. Pada masanya, ia dikenal sebagai seorang filolog terhebat. Ia memiliki kemampuan lainnya di bidang Alquran, tata bahasa, leksikografi, musik, hukum waris, dan fikih mazhab Hambali.

Meskipun digambarkan sebagai sosok yang menderita kebutaan, al-Ukhbari mampu menulis uraian mengenai syair karya Mutanabbi, kumpulan pidato ibn Nubata, dan Maqamat karya al-Hariri. Sementara itu, di Kairo terdapat Madrasah Fadhiliyah yang dibangun untuk pengikut Imam Syafi'i dan Imam Maliki.

Madrasah itu dibangun oleh Khalifah Shalah al-Din al-Qadhi al-Fadhil pada abad ke-12. Perpustakaan ini terletak di Qa'ah al Iqra atau ruang kuliah yang mengajarkan adab. Pustakawannya pun seorang profesor adab. Philip K Hitti dalam History of the Arabs mengungkapkan sosok al-Nadim, yang wafat pada  995 Masehi.

Al-Nadim pernah menjalani karier sebagai pustakawan. Dia juga seorang penjual buku sebelum kemudian menulis sebuah karya besar berupa katalog berjudul al Fihrist. Karya ini diakui para ilmuwan sebagai karya yang komprehensif. Buku ini menguraikan sebuah pusat pemeliharaan naskah di Irak.

Tempat tersebut menyimpan sejumlah naskah yang ditulis pada lembaran kain perca, papirus Mesir, kertas Cina, dan gulungan kulit. Hitti menjelaskan, pustakawan di masa itu mengemban beragam tugas. Mereka harus mampu menyusun ribuan koleksi buku di atas lemari dan mendaftarkannya dalam katalog.

Selain itu, mereka dituntut mampu pula untuk membantu pengunjung mendapatkan buku dengan cepat. Mereka juga berjaga bergiliran untuk memastikan buku tidak ada yang rusak atau hilang. ‘’Di perpustakaan Basrah, misalnya, pekerjanya adalah para sarjana dan mereka mendapat upah dari pendiri perpustakaan,’’ ungkap Hitti.

Dari Masjid Hingga Toko Buku

Sarana perpustakaan terdapat di mana-mana, yang menandai geliat pengetahuan saat peradaban Islam mencapai puncaknya. Masjid merupakan tempat utama yang punya ruang pustaka dengan koleksi buku beraneka ragam. Menurut sejarawan Philip K Hitti, menengarai sejak masa itu masjid berfungsi sebagai tempat menyimpan buku.

Buku-buku koleksi yang ada, diperoleh dari hadiah dan wakaf atau hasil pencarian dari berbagai sumber. Dengan kenyataan seperti itu, wajar jika masjid memiliki kumpulan buku yang sangat kaya. Donatur yang tercatat pernah menghibahkan koleksi bukunya adalah sejarawan terkenal al-Khathib al-Baghdadi (1002-1071 Masehi).

Kalangan bangsawan juga berkontribusi bagi berkembangnya fasilitas yang ada di  perpustakaan. Perpustakaan itu juga dapat dijadikan pusat kajian ilmu dan terbuka untuk umum.  Pada abad ke-10, berdiri sebuah perpustakaan besar di Kota Mosul yang dibangun oleh salah seorang penduduknya.

photo

Ruang pameran di Museum Mosul yang dirusak pasukan ISIS di Irak

Di sana, para pelajar dan ahli bisa mengakses buku yang diinginkan dengan mudah, selain juga mereka akan mendapatkan kertas dan alat tulis lain secara cuma-cuma.

Keberadaan toko buku yang tersebar di kota-kota besar Islam makin menambah nuansa keilmuan di dunia Islam.

Pada masa tersebut, toko buku berperan sebagai agen pendidikan. Kemunculan toko buku semacam ini dimulai sejak awal kekhalifahan Abbasiyah. Seorang cendekiawan Muslim, al-Yaqubi, mencatat, di Baghdad pernah ada lebih dari 100 toko buku yang berderet di satu ruas jalan yang sama.

Sebagian toko itu tidak lebih luas dari ruangan samping masjid, tapi ada juga yang cukup besar.Para penjual buku itu banyak yang rangkap profesi. Mereka ternyata juga punya pekerjaan sebagai penulis kaligrafi, penyalin, bahkan ahli sastra. Mereka mendapatkan posisi terhormat di masyarakat. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES