Wednesday, 5 Jumadil Akhir 1439 / 21 February 2018

Wednesday, 5 Jumadil Akhir 1439 / 21 February 2018

Ilmu Psikologi Berkembang Pesat di Masa Kejayaan Islam

Senin 12 February 2018 16:36 WIB

Red: Agung Sasongko

Ilmuwan Muslim (ilustrasi).

Ilmuwan Muslim (ilustrasi).

Foto: blogspot.com
Beberapa ilmuwan Muslim yang hidup pada zaman itu berhasil mengembangkannya.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA --  Psikologi yang pada mulanya dirintis oleh orang-orang Yunani kuno mengalami perkembangan pesat selama periode emas Islam (dari abad kedelapan hingga ke-15).

"Beberapa ilmuwan Muslim yang hidup pada zaman itu berhasil mengembangkan pen- dekatan keilmuan tersebut kepada tingkat yang lebih praktis. Bahkan, gagasan-gagasan sarjana Muslim tentang psikologi juga memengaruhi peradaban Eropa ketika memasuki periode Renaisans, "ujar penulis akademis dari Yunani, Martyn Shuttle worth, dalam artikelnya, Islamic Psycho logy.

Ia menjelaskan, upaya yang dila ku kan ilmuwan Muslim dalam menggali naskah-naskah kuno Yunani berhasil membawa perubahan besar dalam sejarah psikologi. Mereka tidak hanya belajar dari teks-teks tersebut, melainkan juga mengembangkan gagasan-gagasan mereka sendiri, sehingga mampu mem perkaya khazanah ilmu pengetahuan pada masa itu.

(Baca Dulu: Menguak Tabir Ruhani Manusia)

Selama periode emas Islam, beberapa sarjana Muslim menelurkan banyak karya yang berhu bungan dengan ilmu jiwa. Salah satunya adalah Ibnu Sina, ilmuwan asal Bukhara (Uzbekistan sekarang --Red)yang hidup antara 981?1037. Dia dianggap sebagai tokoh yang memiliki pengaruh paling besar dalam sejarah psikologi Islam.

Dalam melahirkan pemikirannya, Ibnu Sina mengadopsi gagasan-gagasan psikologi dari para filsuf Yunani yang ke mudian dise- laraskannya sesuai dengan ajaran Islam.

Ilmuwan yang oleh masyarakat Barat dikenal dengan sebutan Avicenna itu awalnya menukil gagasan Aristoteles yang menye- butkan bahwa manusia memiliki tiga jenis jiwa, yaitu vegetatif (tumbuhan), hewani, dan jiwa rasional (kecerdasan akal).

Selanjutnya, Ibnu Sina menyatakan bahwa jiwa vegetatif dan hewani memper- talikan manusia dengan bumi, sedangkan jiwa rasional menghubungkan me reka kepada Allah, kata Shuttle worth.

Menurut Ibnu Sina, kemampuan ber pikir yang dimiliki manusia memberikan mereka hubungan yang unik dengan Sang Pencipta.

Dia juga berpendapat bahwa kemampuan mental dipengaruhi oleh bagian tertentu pada otak manuisa. Sepanjang sejarah psikologi, Ibnu Sina adalah ilmuwan pertama yang berupaya memahami cara kerja pikiran dan pena laran manusia.

Muhammad Zakariyah ar-Razi atau biasa disingkat dengan ar-Razi (864?930) juga merupakan salah satu tokoh yang memiliki kontribusi dalam perkembangan psikologi Islam. Ia memiliki sejumlah hasil penga- matan menarik tentang pikiran manusia.

Dalam kitabnya, Tibb al-Funun, ar-Razi membuat beberapa postulat mengenai kondisi emosional manusia, dan memberikan saran untuk pengobatan gangguan mental.

Selain itu, ar-Razi juga memberikan sum- bangan besar bagi sejarah psikologi lewat observasinya yang tajam mengenai etika medis dan penggunaan terapi kondisional terhadap pasien gangguan jiwa. Metode tersebut sudah diterapkannya, jauh sebelum psikolog abad ke-20 menerapkan hal yang sama.

Ibnu Khaldun yang hidup antara 1332?1406 juga berperan penting dalam mem- perkaya khazanah pengetahuan tentang psikologi Islam. Dalam teorinya, ia menye- butkan bahwa faktor lingkungan dan individu yang berada di sekitar manusia ikut mem- bentuk kepribadian seseorang. Ibnu Khaldun juga percaya bahwa perilaku manusia bisa dibentuk melalui pengalaman dan pen- didikan. Gagasan tersebut selanjutnya memberi pengaruh besar terhadap psikologi modern yang muncul pada masa sesudahnya.

Meskipun banyak sarjana Muslim di masa lampau yang menghasilkan kajian tentang ilmu jiwa, istilah `psikologi Islam' tidak pernah populer selama berabad-abad.

Terma tersebut baru mulai menjadi perbin- cangan di kalangan akademisi internasional setelah pakar psikologi klinis asal Sudan, Prof Malik Badri, memublikasikan bukunya yang berjudul The Dilemma of Muslim Psychologists (Dilema Psikolog Muslim) pada 1979.

Menurut Badri, keniscayaan psikologi Islam tidak bisa dimungkiri oleh para psikolog Barat. Pasalnya, hampir semua aliran psikologi yang ada saat ini cenderung mengedepankan sisi hewani pada manusia, dan mengesampingkan sisi ruhani yang mereka miliki. Padahal, psikologi sejatinya adalah ilmu yang sarat dengan nilai. Termasuk nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam ajaran Islam.

Sumber : Dialog Jumat
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Pemprov DKI Jakarta akan Tambah Jalur Sepeda

Selasa , 20 February 2018, 20:09 WIB